Terkini.id, Jakarta - Riset: 4,7 juta warga DKI kena Covid-19 hanya 8,1 persen yang terdeteksi. Lonjakan kasus penularan Covid-19 yang melesat belakangan ini, terutama di DKI Jakarta, mendorong berbagai elemen masyarakat untuk mengambil langkah tegas guna mengeradikasi penularan yang lebih parah.
Terkait hal itu, hasil riset bersama yang dilakukan Ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) menyatakan hampir separuh penduduk DKI Jakarta telah terpapar Covid-19. Namun, tidak sampai 10 persen yang terkonfirmasi atau terdeteksi pemerintah.
Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan dalam survei serologi tersebut, jumlah estimasi warga yang terinfeksi yaitu 4,7 juta dari total penduduk Jakarta sebanyak 10 juta orang atau hampir separuhnya.
Survei serologi dilaksanakan berbasis populasi dengan metode sampling, pada kurun waktu 15-31 Maret 2021. Survei dilakukan di 100 kelurahan di enam wilayah Ibu Kota.
“Jadi sistem kita yang terdeteksi hanya sekitar 8,1 persen. Jadi yang tidak terdeteksi kira-kira lebih, bulatkan, 90 persen,” papar Pandu dalam diskusi virtual, Sabtu 10 Juli 2021.
Pandu menjabarkan, hampir separuh penduduk Ibu Kota yang terpapar Covid-19 itu tersebar di wilayah yang merata di enam kota/kabupaten DKI Jakarta.
Wilayah tertinggi terpapar Covid-19 yaitu di Jakarta Pusat sebesar 53,7 persen dan terendah di Kepulauan Seribu seribu 39,3 persen. Menurut Pandu, wilayah Jakarta Pusat merupakan daerah dengan banyak perkantoran.
“Ternyata dari hasil studi hampir separuh penduduk Jakarta pernah terinfeksi, itu angkanya 44,5 persen. Artinya bahwa ini cukup besar karena Jakarta memang epicenter dari pandemi dan menjadi kontributor terbesar,” imbuh Pandu.
Atas kondisi tersebut, ia pun menyimpulkan hal itu diakibatkan dari kurangnya tingkat deteksi kasus positif di Ibu Kota. Meskipun DKI telah melakukan tes melebihi standar minimum yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia atau WHO.
“Kesimpulannya bahwa deteksi kasus Covid-19 di Jakarta itu masih rendah. Kalau kita melihat penduduk Jakarta 10,6 juta prevalensi yang kita temukan pada Maret,” papar Pandu.















