Jumlah Smelter Nikel di Indonesia Sudah Tembus 116 Unit

Jumlah Smelter Nikel di Indonesia Sudah Tembus 116 Unit

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan total dari fasilitas pemurnian dan pemrosesan mineral mentah (smelter) khususnya untuk komoditas nikel di Indonesia, baik yang sudah beroperasi, dalam masa konstruksi, dan ingin dibangun, terakumulasi mencapai 116 smelter.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri ESDM bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif. Dia menyebutkan smelter dengan proses pirometalurgi atau smelter yang memproses nikel dengan kadar tinggi (saprolite) di Indonesia akan mencapai 97 smelter,

Sedangkan, Irwandy juga menjelaskan untuk jenis smelter dengan proses hidrometalurgi yang menggunakan nikel kadar rendah (limonite) sebanyak 19 smelter.

"Total smelter yang ada sampai dengan saat ini, belum lagi yang terbaru, itu ada 116 smelter," ujar Irwandy dikutip dari CNBC Indonesia dalam program Mining Zone, Kamis 19 Oktober 2023.

Irwandy mengungkapkan, pembangunan smelter nikel kelas dua jenis pirometalurgi semakin masif dengan adanya rencana pembangunan baru smelter sebanyak 28 smelter dan untuk smelter dengan proses hidrometalurgi sedang dalam tahap perencanaan sebanyak 10 smelter.

"Kebutuhan masing-masing 130 juta ton per tahun (pirometalurgi) dan 54 juta ton per tahun (hidrometalurgi)," pungkasnya.

Dia mengatakan untuk nikel melalui proses pirometalurgi di Indonesia yang sudah beroperasi terdapat sebanyak 44 smelter sedangkan untuk nikel yang melalui proses hidrometalurgi yang sudah beroperasi sebanyak 3 smelter.

Adapun, Irwandy menyebutkan saat ini masih terdapat smelter nikel dalam tahap konstruksi. Dia menyebutkan untuk proses pirometalurgi terdapat sebanyak 25 smelter tengah dibangun dan smelter nikel melalui proses hidrometalurgi terdapat 6 smelter yang tengah dikonstruksikan.

"Ada yang sedang dalam tahap konstruksi sebesar 25 smelter dengan konsumsi bijih 78 juta ton per tahun. Dan ke arah proses baterai hidrometalurgi ada 6 smelter yang sedang konstruksi dengan kebutuhan biji 34 juta ton Per tahun," tambahnya.

Selain itu, dia membeberkan nikel jenis saprolite di Indonesia konsumsinya mencapai 210 juta ton per tahun. Sedangkan untuk jenis limonite konsumsinya mencapai 23,5 juta ton per tahun.