Program Makan Gratis dan Susu Dinilai Merendahkan Rakyat, Akademisi: Rakyat Dididik Jadi Hamba

Program Makan Gratis dan Susu Dinilai Merendahkan Rakyat, Akademisi: Rakyat Dididik Jadi Hamba

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Malang - Pengamat sosial dan kebijakan publik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Rinekso Kartono, menilai program makan siang dan susu gratis yang diusung pasangan capres-cawapres, Prabowo-Gibran telah melecehkan dan merendahkan harkat martabat masyarakat.

“Itu melecehkan harkat dan martabat rakyat. Jadi, bantuan-bantuan model itu, memperlakukan rakyat menjadi penghamba," katanya, Minggu 3 Desember siang.

"Berarti pembangunan manusia yang bermartabat gagal. Karena manusia, rakyat Indonesia tidak diperlakukan secara martabat, jadi penghamba,” sambung Dr Rinekso Kartono.

Ia menuturkan, program bantuan makan siang dan susu gratis tidak mendidik masyarakat untuk produktif, namun justru akan menimbulkan ketergantungan.

Hal itu menunjukan pasangan Prabowo-Gibran tidak memahami ideologi negara kesejahteraan (welfare state) di Indonesia.

“Jadi pembangunannya tidak pada pembangunan substantif untuk mengatasi kemiskinan, tetapi pada bantuan yang menyebabkan rakyat kita jadi penghamba, dan itu tidak akan menyelesaikan persoalan kemiskinan. Yang kedua, kayaknya para kandidat ini nggak ngerti yang namanya ideologi welfare state di Indonesia,” kata Rinekso.

Menurutnya, program yang ditawarkan oleh paslon Prabowo-Gibran sulit untuk direalisasikan dan hanya sekadar pencitraan untuk menarik calon pemilih.

Dia mengatakan, program tersebut hampir sama dengan program bagi-bagi nasi bungkus yang diinisasi putri Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau yang akrab disapa Mbak Tutut, ketika menjabat Menteri Sosial.

“Pertama, siapa yang ditunjuk untuk yang memproduksi bantuan makanan itu. Ketika kemudian lelang, siapa yang menjamin itu terpenuhi syarat gizinya nanti. Itu ribet sekali. Belum lagi, apakah semua orang suka susu atau tidak? Nah ini kan jadi persoalan sendiri. Saya menilai program yang ditawarkan TKN Prabowo-Gibran ini hanya pencitraan sesaat dan nanti pasti akan tidak berlangsung lama,” katanya.

Oleh sebab itu, menurutnya meningkatkan kualitas pendidikan menjadi solusi paling strategi untuk mengatasi kemiskinan. Dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan, generasi yang akan datang menjadi lebih berdaya dan produktif.

“Maka, kebijakan ke depan harus berdasarkan sistem bukan berdasarkan citra politik. Masyarakat Indonesia ini kan sekarang jadi penghamba. Sekarang untuk berkarir di politik, orang nggak perlu pinter, nggak perlu hebat, yang penting punya duit, bagi-bagi duit, menang. Ini kan gagal dalam demokrasi kita. Kenapa? Karena rakyat dibuat jadi penghamba gitu lho,” ujarnya.

Diketahui, pasangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, menggaungkan makan siang dan minum susus gratis untuk anak-anak dan ibu hamil, ketika nanti terpilih. Alokasi anggaran program ini sekitar Rp400 triliun.

Anggaran sebesar itu akan diambilkan dari realokasi pos anggaran pendidikan, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan pos-pos anggaran strategis lainnya. Program ini banyak dikritik karena justru memangkas anggaran penting untuk pendidikan dan lainnya.