Semua Smelter yang Dibangun Investor China Harus Diaudit Total

Semua Smelter yang Dibangun Investor China Harus Diaudit Total

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id - Kecelakaan kerja yang terjadi di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park atau IMIP bukan pertama kalinya terjadi. Seperti diketahui, baru-baru ini terjadi ledakan yang menyebabkan sedikitnya 18 pekerja tewas.

Kecelakaan tersebut membuat tungku smelter di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), meledak. Ini menjadi tragedi berulang, khususnya terkait dengan keselamatan di pabrik dengan risiko amat tinggi itu.

Editorial Media Indonesia, mendesak, agar pemerintah harus mengambil langkah serius, termasuk mengaudit smelter-smelter yang dibangun pihak Tiongkok di Tanah Air.

"Dengan ledakan yang terjadi 24 Desember 2023 di PT ITSS itu, maka telah lima insiden tragis terjadi di smelter Nikel dalam setahun terakhir. Dari lima insiden itu, tiga insiden terjadi di PT Gunbuster Nickel Industry (GNI)," tulis editorial media Indonesia.

Seperti diketahui, daftar hitam PT GNI pertama terjadi pada 22 Desember 2022, yakni kebakaran yang menewaskan dua orang. Salah satunya adalah Nirwana Selle, perempuan berusia 20 tahun yang bekerja sebagai operator derek dan kerap membagikan suka duka pekerjaannya di Tiktok. Selanjutnya, pada Juni 2023, terjadi insiden pekerja tersembur api yang menyebabkan satu orang tewas.

Masih di kawasan IMIP, disebutkan, pada April 2023, juga terjadi kecelakaan kerja di PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Industry (PT IGCNSI). Akibatnya, dua pekerja tewas tertimbun limbah nikel.

Pada peristiwa terbaru yang terjadi di PT ITSS, hingga kemarin sore, tercatat sudah 18 pekerja meregang nyawa. Mereka meliputi delapan tenaga kerja asing (TKA) dan 10 pekerja lokal.

Bukan hanya karena jumlah korban yang mengerikan yang membuat berbagai kalangan geram. Terus-menerus terjadinya insiden pantas membuat kita marah. Ini bukan hanya dosa perusahaan-perusahaan tersebut, melainkan juga dosa lemahnya pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) oleh pemerintah.

"Dari berbagai kasus yang ada pun, kita pun dibuat heran dengan begitu banyaknya kejanggalan atau kecerobohan. Contohnya kelalaian dalam proses pendinginan slag, timbunan limbah yang mudah longsor, sampai yang terbaru, yakni sisa slag yang keluar dari tungku dan banyaknya peralatan tinggi risiko di sekitar lokasi, termasuk sejumlah tabung oksigen," tulis Media Indonesia.

Maka kita menuntut pengusutan tuntas kasus-kasus ini. Bukan saja pengusutan tuntas kelalaian di perusahaan-perusahaan tersebut. Kepolisian dan kejaksaan juga patut memeriksa adanya kelalaian pelaksanaan pengawasan K3 oleh Kementerian Perindustrian.