Pemimpin yang punya kepedulian dan perhatian bahkan menjadi bagian dari kehidupan rakyat banyak.
Saat itu saya melihat sosok Jokowi yang datang dari Solo, memilki latar belakang kehidupan rakyat biasa, dapat menjadi harapan dan mewakili perasaan saya.
Apalagi beliau ketika itu didampingi oleh pak JK, yang memang saya kenal dan kagumi sejak lama. Sayangnya, perkiraan saya tentang Jokowi meleset.
Jokowi tetap nampak lugu (ndeso). Tapi kebijakan-kebijakannya justeru banyak yang melukai rakyat. Berbagai gebrakan pembangunan sangat kental berpihak kepada Oligarki, menguntungkan segelintir yang kaya.
Rakyat tetap miskin. Bahkan beberapa kasus rakyat harus menghadapi kenyataan pahit. Digusur misalnya demi hawa nafsu para Oligarki.
Yang paling mengecewakan juga adalah belakangan saya dapat informasi jika pak JK yang di saat menjadi Wakil pak SBY memainkan peranan signifikan, ternyata tidak diberi ruang.
Ada seorang Menteri yang lebih punya akses dan kekuasaan ketimbang seorang Wapres.
Maka di pilpres selanjutnya (2019) saya memutuskan mendukung dan memilih Prabowo-Sandi.
Sejujurnya saya tidak kenal banyak Prabowo kecuali sebagai seorang Jenderal, dengan sederet catatan positif dan negatinya. Tapi saya memutuskan mendukung karena kecewa dengan Jokowo.
Apalagi cawapres Jokowi ketika itu adalah Sandiaga Uno yang saat itu saya lihat punya kapasitas (pebisnis berhasil dan cukup religious).















