Singkat cerita kita dan berjuta-juta rakyat Indonesia berjuang dengan keringat bahkan darah untuk memenangkan Prabowo. Tapi manipulasi dan ketidakjujuran dalam proses Pilpres memaksanya untuk menerima kekalahan itu.
Walaupun fakta menyatakan bahwa para pendukung siap membela hingga akhir hayat mereka.
Lebih 600 relawan meninggal yang hingga kini tidak pernah mendapat kepedulian Prabowo bahkan di saat sudah tenang dengan posisi Menhan.
Sebenarnya yang lebih menyedihkan dan menyakitkan bagi pendukung-pendukung prabowo ketika itu adalah kenyataan bahwa dengan entengnya Prabowo bergabung dengan pemerintahan Jokowi tanpa mempertimbangkan pengorbanan para pendukungnya.
Bergabungnya Prabowo ke pemerintahan Jokowi ini, walau dilapisi dengan lapisan indah “rekonsiliasi”, “persatuan”, “demi negara” dan banyak lagi jelas dianggap pengkhianatan.
Pengkhianatan kepada para pendukung yang mengharapkan walaupun kalah, tapi tetap menjadi lokomotif perubahan. Sekaligus pengkhianatan kepada demokrasi yang sehat. Bahwa demokrasi yang sehat memerlukan oposisi yang kuat.
Seperti yang Anies pernah sampaikan dalam debat pertama bahwa politik itu bukan sekedar kekuasaan. Tapi pengabdian dan pelayanan kepada bangsa.
Kehormatan politik ada pada kata “pengabdian” kepada bangsa dan negara. Kata yang sering diucapkan oleh Prabowo di mana-mana. Dan karenanya menjadi oposisi juga adalah bentuk pengabdian kepada negara dan demokrasi yang sesungguhnya terhormat.
Hanya saja Prabowo tidak tahan menjadi oposisi (kata Anies). Akibatnya sangat terasa bagaimana pengambilan kebijakan selama ini yang terasa semena-mena.
Alasan inilah yang saya anggap cacat karakter, dan banyak alasan yang lain, termasuk masalah wawasan, stabilitas emosi, keagamaan, kecerdasan bahkan pertimbangan umur dan kesehatan.















