Selat Hormuz Tegang, Nasib Kapal Minyak Indonesia Bergantung Diplomasi

Selat Hormuz Tegang, Nasib Kapal Minyak Indonesia Bergantung Diplomasi

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali berdampak pada jalur energi dunia. Salah satu titik paling strategis, Selat Hormuz, kini menjadi perhatian pemerintah Indonesia menyusul pelayaran dua kapal milik PT Pertamina (Persero) yang berada di kawasan Teluk Persia.

Dua kapal tersebut, Pertamina Pride dan Gamsunoro, harus melintasi jalur tersebut di tengah situasi kawasan yang memanas. Pemerintah Indonesia pun mengandalkan jalur diplomasi dengan Iran agar pelayaran dapat berlangsung aman.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengatakan komunikasi dengan otoritas Iran terus dilakukan sejak awal situasi meningkat di kawasan tersebut.

“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Keselamatan Awak Kapal Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah menegaskan bahwa misi diplomasi ini tidak hanya berkaitan dengan pasokan energi, tetapi juga menyangkut keselamatan awak kapal Indonesia yang berada di wilayah rawan konflik.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyebut koordinasi lintas kementerian terus dilakukan untuk memastikan pelayaran berjalan aman dan lancar.

“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” tegasnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa jalur pelayaran energi bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga menyangkut geopolitik dan keselamatan warga negara.

Indonesia Mulai Diversifikasi Impor Minyak