Di tengah ketidakpastian kawasan Timur Tengah, pemerintah mulai mempercepat strategi diversifikasi impor minyak mentah dan BBM dari berbagai negara di luar Timur Tengah.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional jika terjadi gangguan distribusi minyak dunia.
Sepanjang tahun 2025, Pertamina tercatat mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah.
Dari jumlah tersebut, sekitar 19 persen berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya berasal dari Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, hingga Singapura melalui kerja sama jangka panjang.
Diversifikasi ini menjadi strategi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan yang rentan konflik geopolitik.
Pertamina Siapkan Pelintasan Kapal
Sementara itu, melalui Pertamina International Shipping, persiapan administratif dan operasional terus dilakukan sebelum kapal melintasi Selat Hormuz.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa keselamatan kru dan keamanan kapal tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Selat Hormuz dan Stabilitas Energi Dunia















