9 unit sentra pengolahan dan fasilitas packaging beras
Menurut Rizal, pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat cadangan pangan nasional sekaligus mengurangi kehilangan hasil panen akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan pengeringan.
Tiga Tahap Persiapan Pembangunan
Dalam pelaksanaannya, Bulog telah menyiapkan tiga langkah utama untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur tersebut.
Pertama, penyusunan studi kelayakan (feasibility study) dengan melibatkan akademisi dan para ahli guna memastikan proyek layak secara teknis, operasional, dan finansial.
Kedua, penyusunan pertimbangan teknis bersama Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, agar pembangunan infrastruktur disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan sentra produksi pangan.
Ketiga, evaluasi kelayakan finansial serta rekomendasi penggunaan dana investasi pemerintah non permanen.
“Setelah ketiga unsur tersebut terpenuhi, hasilnya akan dilaporkan kepada Menteri Koordinator Pangan untuk memperoleh persetujuan tertulis sebelum pembangunan dimulai,” jelas Rizal.
Prioritas di Sentra Produksi Pangan
Bulog menyebut pembangunan infrastruktur pascapanen akan diprioritaskan di sentra produksi pangan utama seperti Lampung, Pulau Jawa, dan Sulawesi Selatan dengan fasilitas lengkap berupa dryer, Rice Milling Unit, silo, hingga sistem mekanisasi dan otomatisasi modern.
Sementara itu, di wilayah kepulauan seperti Natuna, Rote, dan Tidore, pembangunan difokuskan pada gudang penyimpanan untuk menjaga stabilitas pasokan pangan, terutama saat terjadi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem dan keterbatasan transportasi logistik.
Setiap lokasi pembangunan nantinya akan melalui uji kelayakan teknis seperti soil test, analisis kemiringan lahan, serta kajian akses jalan guna mendukung mobilisasi logistik pangan.















