Terkini, Jakarta — Kementerian Pariwisata RI (Kemenpar) memperkuat strategi pemasaran pariwisata melalui pendekatan adaptif guna menghadapi dampak krisis global terhadap sektor perjalanan dan wisata.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyatakan bahwa sektor pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif terhadap dinamika global, termasuk konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards 2026 bertajuk “Resilient Leadership in the Age of Disruption” yang digelar di Jakarta, Kamis lalu.
“Pariwisata sangat terdampak oleh perubahan global. Karena itu, kami melakukan penyesuaian strategi pemasaran internasional,” ujar Made.
Fokus Bergeser ke Asia
Sebagai respons, Kemenpar melakukan strategi refocusing dengan mengalihkan fokus pasar dari kawasan Eropa dan Amerika ke Asia.
“Langkah refocusing yang kami lakukan adalah pivot. Dari sebelumnya berfokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini kami mengarahkan perhatian lebih besar ke kawasan Asia,” jelasnya.
Pasar prioritas yang dibidik meliputi negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura, serta Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
Menurut Made, negara-negara tersebut dinilai strategis karena memiliki kedekatan geografis, akses penerbangan langsung, serta tidak bergantung pada rute transit yang melewati wilayah konflik.
“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket,” katanya.














