Ia mengaku tidak ingin terlalu larut membandingkan dirinya dengan rival-rival di lintasan.
“Saya tidak ingin membandingkan diri saya dengan pebalap lain, tetapi dengan diri saya di musim-musim sebelumnya. Tahun ini lawan terbesar saya adalah diri saya sendiri,”bebernya.
Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana perjalanan balap di Eropa membentuk mentalitas Ramadhipa, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga pribadi yang terus berkembang di tengah persaingan internasional.
Persiapan menuju musim 2026 pun dilakukan secara serius. Sejak awal Maret, Ramadhipa telah menjalani berbagai program latihan intensif di Eropa bersama timnya.
Mulai dari winter camp, latihan fisik, hingga sesi pengujian motor di Valencia dan Barcelona dilakukan demi menghadapi musim panjang yang penuh tantangan.
Musim lalu menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya. Ramadhipa menutup ETC di posisi kelima klasemen akhir dengan raihan dua kemenangan dan satu podium tambahan.
Sementara di Red Bull Rookies Cup, ajang yang dikenal sebagai salah satu jalur pembinaan menuju MotoGP, ia mengakhiri musim di posisi kedelapan klasemen.
Capaian tersebut membuat nama Ramadhipa mulai diperhitungkan dalam persaingan pebalap muda dunia.
Di sisi lain, AHM melihat langkah Ramadhipa sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun talenta balap Indonesia hingga level internasional tertinggi.
Bagi Ramadhipa, musim ini bukan sekadar tentang hasil akhir. Barcelona menjadi titik awal perjalanan baru untuk terus berkembang, menantang batas kemampuan, sekaligus menjaga mimpi besar pebalap muda Indonesia tetap melaju di lintasan dunia.














