Terkini, New York — Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan proses transformasi spiritual yang seharusnya mengubah cara pandang seseorang terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan kehidupan secara keseluruhan.
Hal tersebut disampaikan Imam dan cendekiawan Muslim asal Kecamatan Kajang Bulukumba Sulsel Indonesia di Amerika Serikat, Shamsi Ali Al-Nuyorki, dalam refleksinya yang ditulis dari Jamaica Hills, New York, pada 31 Mei 2026.
Menurutnya, nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji harus terus hidup setelah jemaah kembali ke tanah air.
"Haji seharusnya tidak berhenti di Makkah. Pelajaran dan perubahan yang diperoleh selama berhaji harus dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," tulis Shamsi Ali.
Rendah Hati dan Kesetaraan di Hadapan Allah
Pelajaran pertama yang ditekankan adalah pentingnya kerendahan hati. Menurut Shamsi Ali, pakaian ihram menghapus seluruh atribut duniawi yang selama ini membedakan manusia.
"Dalam dua helai kain putih, semua berdiri sejajar, baik CEO, buruh, ulama maupun petani. Di hadapan Allah, status sosial, kekayaan, dan kebangsaan tidak lagi memiliki arti," ujarnya.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah SWT.
Haji Melatih Kesabaran
Pelajaran berikutnya adalah kesabaran. Berbagai tantangan selama pelaksanaan ibadah haji, mulai dari cuaca panas, antrean panjang, hingga kondisi yang serba terbatas, menjadi sarana latihan mengendalikan emosi dan reaksi.
Menurut Shamsi Ali, kebiasaan mengucapkan "Alhamdulillah" dan menerima ketentuan Allah dengan lapang dada menjadi modal penting saat kembali menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.
Persatuan Umat yang Nyata
Shamsi Ali juga menyoroti pengalaman menyaksikan persatuan umat Islam secara langsung.















