Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa penutupan 122 program studi dilakukan berdasarkan usulan dari perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Menurut Brian, sebagian prodi ditutup karena jumlah mahasiswa terus menurun. Sementara sebagian lainnya dialihkan menjadi program studi baru yang dinilai lebih diminati dan memiliki prospek yang lebih baik di dunia kerja.
“Jadi beberapa ada yang karena mahasiswanya berkurang atau mereka ingin mengganti menjadi program studi yang lebih atraktif. Seperti misalnya sebelumnya Matematika menjadi Aktuaria. Karena ketika lulusan Aktuaria mereka fokus pelajarannya lebih banyak yang nantinya dibutuhkan oleh industri,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI.
Brian menjelaskan bahwa mayoritas program studi yang ditutup berasal dari jenjang Diploma III (D3), meskipun terdapat pula beberapa program Sarjana (S1).
Delapan Prodi yang Paling Banyak Ditutup
Berdasarkan data Kemendikti Saintek, delapan program studi yang paling banyak ditutup sepanjang 2026 meliputi:
D3 Kebidanan: 16 lokasi
D3 Manajemen Informatika: 8 lokasi
D3 Akuntansi: 7 lokasi
D3 Teknik Komputer: 3 lokasi















