Sebaran asap juga terdeteksi di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG mengingatkan sebagian asap dapat terbawa pola angin sehingga menyebar ke wilayah di sekitarnya.
Suhu Udara di Sejumlah Wilayah Tembus 36 Derajat Celsius
Selain kekeringan dan karhutla, masyarakat juga diminta mewaspadai peningkatan suhu udara selama musim kemarau.
Minimnya tutupan awan sejak pagi hingga siang hari membuat pemanasan permukaan bumi berlangsung lebih intens. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan suhu udara maksimum.
Pada 23–26 Agustus 2026, suhu maksimum di sejumlah wilayah tercatat melampaui 36 derajat Celsius, antara lain di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Aceh, dan Medan.
Cuaca panas tersebut dapat menurunkan kenyamanan termal masyarakat serta meningkatkan kebutuhan air. Dalam kondisi tertentu, suhu tinggi juga dapat berdampak terhadap kesehatan, produktivitas, dan aktivitas masyarakat, terutama pada siang hingga sore hari.
BMKG mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan pelindung atau tabir surya serta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap tercukupi.
Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi
Meskipun kemarau mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, hujan signifikan masih terjadi di sejumlah daerah, terutama Sumatera bagian utara hingga tengah.
Pada 24–26 Agustus 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara dengan curah hujan mencapai 110 milimeter per hari, Sumatera Barat 90 milimeter per hari, Kepulauan Riau 63 milimeter per hari, dan Jambi 56 milimeter per hari.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal.














