Sejumlah faktor tersebut antara lain aktivitas Gelombang Kelvin di sebagian Sumatera bagian tengah, daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatera.
Kondisi itu meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan. Faktor lokal seperti pemanasan permukaan, topografi, serta interaksi angin darat dan laut turut berperan.
El Niño Sangat Kuat dan IOD Positif Pengaruhi Kondisi Kering
Untuk periode Agustus III hingga September II 2026, BMKG memprakirakan curah hujan berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0–150 milimeter per dasarian.
Curah hujan rendah, di bawah 50 milimeter per dasarian, masih mendominasi banyak wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut terutama diprakirakan terjadi di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.
BMKG menyebut kondisi kering turut dipengaruhi fenomena El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprakirakan masih mendominasi.
Kedua fenomena tersebut cenderung menekan aktivitas konvektif dan mendukung berlanjutnya kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia.
Namun, sejumlah dinamika atmosfer masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal.
Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif pada 28–29 Agustus 2026 di pesisir utara Aceh, Selat Malaka bagian utara, Kepulauan Aru, Laut Arafura bagian tengah hingga timur, serta Papua Selatan.
Gelombang Rossby Ekuator juga diprakirakan aktif di pesisir timur Papua Selatan.














