Widiyanti mengatakan peningkatan keselamatan harus dilakukan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penerapan standar operasional yang konsisten, kepatuhan terhadap ketentuan keselamatan, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat di darat maupun laut.
Pada 2026, Kemenpar telah menjalankan sejumlah program peningkatan kompetensi pelaku pariwisata, termasuk Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata Indonesia (SATRIA) untuk bidang kepemanduan serta Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang mencakup wisata tirta, wisata gunung, dan snorkeling.
Pelaku usaha dan asosiasi pariwisata juga mendorong adanya penguatan pelatihan mitigasi gempa dan tsunami bagi nakhoda, awak kapal, pemandu, serta operator wisata.
“Pariwisata yang berkualitas selalu dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu keselamatan masyarakat dan wisatawan,” kata Widiyanti.
Kembangkan Destinasi di Luar Taman Nasional Komodo
Kemenpar juga mendorong diversifikasi daya tarik wisata di Labuan Bajo dengan mengembangkan destinasi di luar kawasan Taman Nasional Komodo.
Pengembangan kawasan darat dinilai penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih beragam, memperpanjang lama tinggal wisatawan, sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata kepada masyarakat.
Sejumlah kawasan yang dibahas untuk penguatan dan penataan antara lain Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko. Selain itu, terdapat potensi daya tarik wisata lainnya di Manggarai Barat dan wilayah Flores yang dapat dikembangkan.
“Labuan Bajo memiliki potensi yang sangat besar, baik di laut maupun di darat. Ke depan, kita perlu terus memperkuat produk dan pengalaman wisata sehingga pergerakan wisatawan semakin tersebar, lama tinggal meningkat, dan manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat,” ujar Widiyanti.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan gempa pada 15 Agustus 2026 tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pariwisata secara keseluruhan di Labuan Bajo.















