Wirausaha Gen Z: Solusi Kebijakan atau Pelarian Tanggung Jawab Negara?

Wirausaha Gen Z: Solusi Kebijakan atau Pelarian Tanggung Jawab Negara?

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Ukuran keberhasilannya harus bergeser kepada pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak usaha yang mampu bertahan, tumbuh, menciptakan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan pelakunya?

Di sinilah teori Entrepreneurial Ecosystem dari Daniel Isenberg (2010) menjadi relevan. Kewirausahaan tidak tumbuh di ruang kosong. Ia membutuhkan ekosistem yang terdiri atas kebijakan, pembiayaan, pasar, sumber daya manusia, budaya kewirausahaan dan dukungan kelembagaan.

Karena itu, jika pemerintah ingin menjadikan Gen Z sebagai kekuatan ekonomi baru, tugas negara bukan sekadar menyuruh mereka berwirausaha tetapi membangun lingkungan yang membuat usaha mereka memiliki peluang untuk tumbuh.

Kebijakan tersebut dapat diarahkan pada beberapa hal. Pertama, memperluas pembiayaan berbasis kelayakan usaha dan rekam jejak bisnis.

Kedua, memperkuat inkubasi yang tidak berhenti pada pelatihan tetapi mendampingi usaha sampai mampu bertahan di pasar.

Ketiga, membuka akses pasar melalui pengadaan pemerintah, rantai pasok industri dan perdagangan digital.

Keempat, memperkuat literasi teknologi dan AI agar Gen Z tidak hanya menjadi pengguna platform tetapi mampu menciptakan produk dan model bisnis baru.

Yang tidak kalah penting adalah membangun jaring pengaman bagi kegagalan usaha. Kegagalan pertama seharusnya menjadi pengalaman belajar, bukan akhir dari masa depan ekonomi seorang anak muda.

Pada akhirnya, kita perlu berhenti mempertentangkan pilihan antara bekerja atau berwirausaha. Negara membutuhkan keduanya. Lapangan kerja formal tetap harus diperluas, sementara kewirausahaan harus dibangun sebagai pilihan ekonomi yang produktif dan bermartabat.

Sebab, negara yang kuat bukan negara yang membuat semua anak mudanya menjadi pengusaha. Negara yang kuat adalah negara yang membuat anak mudanya memiliki pilihan.