Terkini.id, Jakarta - Ini sejarah rambut kuncir ala Jet Li dalam film Kungfu Master, unik tapi nyata. Bagi Anda penggemar film-film silat atau kungfu, pasti dong mengenal Jet Li? Jet Li, artis kondang yang sering memerankan film laga Mandarin dengan permainan kungfunya yang ciamik disukai banyak penikmat film. Bukan saja aksi beladirinya yang menawan, tetapi juga penampilannya dalam film-filmnya juga terbilang unik.
Unik yang dimaksud di sini, si aktor top Hongkong ini kerap bermain film laga dalam nuansa klasik China tempo doeloe. Seperti dalam beberapa filmnya, sebut saja The Kungfu Master, The Fearless, dan masih banyak lainnya, ia pun menampilkan sosok heroik jadul dengan model pada zamannya. Ini dapat terlihat dalam gaya rambut China yang unik, yaitu kuncir panjang dengan kepala setengah botak di depannya.

Gaya rambut ala China kuno itu disebut taucang. Nah, bagaimana sejarah terkait gaya rambut yang memang unik tapi nyata itu. Berikut kisahnya yang dirangkum Terkini.id dari beberapa literatur terkait China.
Rambut ala taucang ini bermula dari Dinasti Qing (1644-1911), dikenal juga sebagai Dinasti Manchu, merupakan satu dari dua dinasti “asing” yang memerintah di Tiongkok atau China setelah Dinasti Yuan (Mongol).
Dinasti ini sekaligus dinasti terakhir di China. Sementara, pengertian asing dalam arti dinasti pemerintahan ini berasal dari etnis non Han atau bukan suku asli yang mayoritas suku Han. Padahal, dalam sejarah China kuno, selain Mongol tidak ada suku lain yang memerintah Negeri Tirai Bambu ini selain dari suku Han sendiri.
Dinasti ini didirikan orang Manchuria dari klan Aisin Gioro, kemudian mengadopsi tata cara pemerintahan dinasti sebelumnya serta meleburkan diri ke dalam entitas China itu sendiri. Selain keistimewaan sebagai etnis asing non Han yang dapat menguasai daratan China, ada hal lain yang menjadi tipikal Manchuria yaitu model rambut para prianya, yang tadi disebutkan sebagai taucang.

Dalam masa monarki terakhir dengan Kaisar Pu Yi tersebut, model rambut pria Tionghoa tampak khas dan unik. Keunikan tersebut sebenarnya merupakan entitas dari model rambut orang Manchuria, di mana rambut pada batok kepala dibagi dua, depan dan belakang. Setengah bagian depan kepala dibotakkan, sementara rambut pada bagian belakang dibiarkan panjang dan dikuncir. Kuncir ala Qing selanjutnya lazim disebut “Taucang”.
Ihwal kuncir taucang yang menjadi tradisi model rambut pria Manchuria menurut manuskrip peninggalan sejarah China kuno, tidak terlepas dari adat temurun yang menjadi kebiasaan orang Manchu, yang berasal dari China Timur Laut dekat perbatasan Korea.
Asalnya dari suku Nujen, salah satu suku dalam era Ming, dinasti terakhir sebelum Dinasti Qing berkuasa. Sebelumnya, suku Nujen berasal dari Kerajaan Kim yang berakar budaya nomad dan sempat berjaya sebagai salah satu kerajaan dalam Dinasti Song (960-1279).
Taucang Bermula dari Suku Pengembara yang Mahir Berkuda
Sama halnya orang Mongol, Manchuria juga merupakan suku pengembara yang mahir berkuda. Untuk memudahkan perjalanan, rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat.
Alasannya, jika tidak begitu maka rambut akan tertiup angin kencang. Seperti Manchuria, orang Mongol juga memiliki adat menguncir rambut lantaran kebiasaan berkuda ini. Setelah berasimilasi dengan kebiasaan dan iklim, perlahan-lahan tradisi menguncir rambut itu menjadi kebiasaan serta budaya Manchuria.

Sementara itu, orang Han yang notabene penduduk asli di China tidak seberapa mahir berkuda dibandingkan Mongol dan Manchuria. Pada masa lampau, orang Han yang berkuda biasanya hanya memakai serban untuk mengikat rambut mereka.
Kaisar Dinasti Qing, Shunzhi atas bantuan Jenderal Wu Sangui (mantan jenderal pada masa Dinasti Ming yang membelot) berhasil menerobos The Great Wall alias Tembok Besar dan menguasai Beijing yang dulu bernama Da-du pada 1644.
Guna mempertegas legitimasi penaklukan atas orang Han, Shunzhi lantas memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambut sesuai tradisi kuncir orang Manchuria. Adapun yang menentang perintah harus dipenggal.
Semboyan otoriter, kejam, dan tirani waktu itu adalah, “Ingin rambut penggal kepala, ingin kepala penggal (pangkas) rambut”.

Saat dikeluarkannya amanat atau maklumat tersebut, banyak juga yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan. Makanya, Kuil Shaolin adalah salah satu komunal oposisi yang bertentangan dengan kekaisaran. Dalam sejarahnya pula, Shaolin memang pernah diberangkus kekaisaran yang berkuasa dengan membakar vihara serta membunuh biksu-biksunya.
Sejak saat itu, semua orang China wajib bertaucang. Ketika terjadi eksodus ke negara lain, orang-orang Tionghoa perantauan atau biasa disebut Hua Ren masih mempertahankan model rambut mereka yang setengah botak dengan kuncir ekor kuda yang dililit seperti cemeti. Hal itu dapat dilihat dari Tionghoa peranakan yang masuk ke Indonesia pada awal abad ke-18 hingga awal abad ke-20.
Di pengujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, korupsi di dalam birokrasi dan kolonialisasi Barat menjadikan China bangsa yang lemah. Pada 1911, pemimpin kunci revolusi Sun Yat Sen melancarkan Revolusi Xinhai dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing.
Ia lantas mendirikan China sebagai negara republik dan menjadi presiden pertama sementara (1 Januari 1912-1 April 1912), sebelum digantikan presiden pertama, Yuan Shikai.
Sun Yat Sen adalah salah satu tokoh nasionalis garis keras yang menolak taucang sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah republik China berdiri, otomatis tradisi taucang hilang dengan sendirinya, tidak terkecuali pada suku asli Manchuria.















