“Lantas apabila program tersebut di laksanakan dengan mematok angka demikian besar, bukankah akan menjadi masalah baru untuk Tanah Air. Mengingat anggaran yang seharusnya lari ke pendidikan atau menyubsidi energi harus terpangkas untuk program makan gratis Prabowo?,” tanya Kiki.
Menurutnya, anggaran senilai Rp400 triliun tersebut, lebih baik dialokasikan untuk meningkatkan sarana pendidikan, atau menambah fasilitas pendidikan yang saat ini masih belum merata.
Sebab, kebutuhan fasilitas pendidikan di Indonesia masih tinggi dan masih banyak masyarakat tidak mampu yang belum mendapatkan layanan pendidikan yang layak.
Dengan pendidikan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih bahagia dan sejahtera. Dari sana pula angka kemiskinan dapat ditekan, sehingga terciptalah keberhasilan seorang pemimpin dalam menekan angka kemiskinan.
“Namun sayangnya hal seperti itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Prabowo, karena usianya yang sudah tak lagi muda menyebabkan kepiawaiannya menurun. Pun ia juga sudah merasa di atas, karena karapan-karapan gemoy terus melekat dalam benaknya,” jelasnya.
Dikatakan Kiki, tidak semua masalah bisa terselesaikan dengan makan gratis. Masyarakat membutuh fasilitas penunjang bakat, bukan sekadar memakan umpan, karena justru akan menjadi jebakan kemalasan.
“Sehingga pendidikanlah kunci dari segala kunci yang ada. Program pendidikan harus terus ditingkatkan mutu dan kualitasnya,” kata pegiat medsos dengan 115 ribu pengikut ini.
Menurutnya, saat ini Indonesia membutuhkan pemimpin yang mempunyai komitmen sungguh-sungguh dalam menjaga, merawat serta melestarikan pendidikan. Sebab, hal itu akan menjadi tangga menuju puncak keberhasilan para generasi muda dalam mewujudkan rajutan asa.
Dengan demikian, kata Kiki, program makan gratis yang sering diumbar Parbowo dirasa tidak efektif, pun juga tak membawa pengaruh positif untuk kemajuan Indonesia. Bukannya untung, tapi malah buntung.
“Lalu, gimana nih pak Prab? Akankah dirimu masih getol dan ngotot untuk menggaungkan program makan gratis yang akan membuat anggaran negara carut-marut, lantaran harus memecah serta membagi-bagi ulang alokasi dana? Apakah pak Prab ingin tragedi krisis moneter yang berakibat chaos pada tahun 1998 kembali bergulir? Aku sih NO, pak,” ujarnya.















