Kecenderungan ini (anti dan peperangan kepada agama dan moralitas) seiring dengan kemajuan dan kemenangan Barat, khususnya melalui kolonialisasi dunia lain.
Mereka tidak saja merampok kekayaan dunia nkn Barat. Tapi juga pandangan dan defenisi nilai mereka paksakan kepada dunia non Barat, baik secara terang-terangan maupun dengan berbagai “cover up” yang menggiurkan.
Kemajuan dan kekuatan perangkat yang Barat miliki menjadikan bangsa-bangsa dunia lainnya tunduk dan sujud kepada defenisi dan nilai kehidupan yang ditawarkan oleh Barat.
Pada saat yang sama, sebagaimana dalam sebuah pepatah bahasa Arab dikatakan: “al-maghluub muula’un bil ittiba’ bil ghaalib” (yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang).
Dunia non Barat, termasuk dunia Islam, dengan sangat mudah ditundukkan dan terus terjajah secara ideologi dan pandangan kehidupan Barat (western mindset) ini.
Dunia Islam tidak saja dengan mudah dan terbuka mengadopsi defenisi dan nilai kehidupan Barat itu.
Lebih jauh ikut terbawa arus dan merasa jika kemajuan (development) dan modernitas (modernity) itu harus sejalan dengan defenisi dan mindset Barat.
Peperangan Barat kepada nilai-nilai agama dan moralitas kemudian diformalkan dengan berbagai institusi, baik pemerintahan (governmental) maupun non pemerintahan (non governmental) melalui berbagai organisasi NGO yang kita kenal.
Salah satu NGO yang berada di garda terdepan adalah organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dan hak-hak dasar manusia. Tentu sangat indah karena membawa slogan “membela hak-hak dasar manusia” (Human rights).
Keluarga dan remaja jadi target utama
Jika kita mengikuti berbagai peristiwa dunia, termasuk peristiwa-peristiwa di dunia Islam, bahkan di negara kita Indonesia, kita dapati bahwa upaya perang terhadal agama dan moralitas ini menjadi sangat intens dalam tahun-tahun terakhir.















