Dicap Partai Paling Munafik, PSI Disebut Ubah Logo karena Ingin 'Cuci Sejarah'

Dicap Partai Paling Munafik, PSI Disebut Ubah Logo karena Ingin 'Cuci Sejarah'

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini - Partai Solidaritas Indonesia yang sebelumnya resmi menetapkan ketua umum mereka dari hasil Kongres PSI di Solo, Sabtu lalu, yakni Kaesang Pangarep, mendapat banyak sorotan.

Bukan cuma karena statemen pendiri partai tersebut, Jeffrie Geovanie yang 'berfatwa' bahwa partai itu harus mendapatkan Jokowi atau 'Trah Jokowi' jika ingin terus hidup.

Namun, penulis Tere Liye juga melontarkan pendapatnya tentang perilaku munafik partai tersebut. Menurut dia, PSI yang dianggap baru seumur jagung, sangat licin seperti belut.

"Dulu partai ini gagah sekali, mengklaim sebagai Partai Anak Muda, benci dinasti politik dan lain-lain. Lalu kenapa mereka ganti logo? simpel, karena mereka ingin mencuci sejarah," tulis Tere Liye lewat postingannya di media sosial, yang diposting Selasa 22 Juli 2025.

Untuk memberi contoh statemennya itu, Tere Liye melampirkan foto, kala partai tersebut memberi penghargaan kepada Prabowo Subianto sebagai politikus dengan kebohongan ter-lebay pada 2019 silam.

Saat itu, PSI memang getol 'menyerang' lawan-lawan politik Jokowi, termasuk Prabowo.

"PSI itu dulu mencaci, memaki, bahkan memberikan piagam kebohongan terlebay ke Prabowo Subianto. Itu tuh baru 2019 lalu. Masih segar sekali," ungkap dia.

Nah, menurut penulis buku 'Negeri Para Bedebah' itu, PSI berusaha mencuci sejarah, dengan menghilangkan kesan di masa lalu saat partai tersebut getol menyerang Prabowo Subianto. Salah satunya dengan mengganti logo partai tersebut.

"Yes! Sekarang mereka sudah insyaf, kapok --karena saat dukung Ganjar, dicuekin, dan lihat situasi ternyata yang ono malah pindah ke Prabowo. Licin bagai belut, mereka pindah haluan.

Tapi kalian catat baik-baik, orang-orang ini adalah politisi. Besok lusa, jika mereka berpisah jalan dengan geng Prabowo, wah wah, percayalah, mereka akan mencaci maki lagi.