“Ini adalah rumah sakit milik Kemenag pertama di Indonesia. Legasi ini terwujud dari proses panjang, dari masa Rektor Prof. Kadir Gassing, Prof. Musafir Pababbari, hingga kini,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia Prof Dr KH Nasaruddin Umar dalam sambutannya memberikan pesan agar Rumah Sakit UIN Alauddin Makassar ini menjadi pelopor integrasi antara pengobatan modern dan tradisional yang berakar pada kearifan lokal dan nilai spiritualitas Islam.
Dia juga menegaskan bahwa istimewanya Rumah Sakit UIN Alauddin Makassar bukan semata karena lokasinya yang strategis atau karena menjadi rumah sakit pertama yang didirikan Kementerian Agama, melainkan karena konsep unik yang menggabungkan pengobatan ilmiah dan tradisi leluhur.
“Kami ingin rumah sakit ini unggul karena mengombinasikan metode pengobatan modern dengan metode-metode tradisional 3.500 tahun lampau masyarakat kita tidak ada rumah sakit tapi bersahabat dengan alam. Sebagaimana alam berpartisipasi menyembuhkan manusia,”urai Menang asal Kabupaten Bone tersebut.

"Saya harap Rumah Sakit UIN Alauddin Makassar ini bisa mengangkat pengobatan tradisional Bugis-Makassar. Jangan hanya terjebak dalam pendekatan medis konvensional,"sambungnya.
Bahkan dirinya juga mengajak seluruh sivitas akademika dan pengelola RS UIN Alauddin Makassar agar mengelola rumah sakit dengan pendekatan holistik dan komprehensif, mengedepankan keharmonisan antara sains, spiritualitas, dan alam.
Ia pun mengajak mahasiswa kedokteran dan para tenaga medis muda untuk tidak sekadar copy paste pengetahuan. Tetapi berani menciptakan pendekatan baru yang menggabungkan nilai-nilai budaya lokal.
Menag Nasaruddin juga menaruh harapan besar pada Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat inovasi dan integrasi keilmuan di Indonesia.
"Saya pikir Sulsel ini akan jadi tren center nasional. Mari kita kompak dan solid, lupakan perbedaan mazhab atau perilaku. Kita semua satu dalam misi pelayanan,"imbuhnya.

Fasilitas Modern dan Kapasitas Besar















