Terkini, Makassar – Di sebuah ruangan pertemuan di Hotel Claro Makassar, suasana forum para saudagar tiba-tiba berubah menjadi lebih hening pada pelaksanaan PSBM XXVI pada Kamis 26 Maret 2026
Di hadapan para pengusaha dan tokoh nasional, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, tidak sedang berbicara tentang investasi, proyek, atau angka-angka ekonomi. Ia justru mulai bercerita tentang sepiring makanan sederhana bernama nyuknyang.
Dari sepiring nyuknyang itulah, cerita panjang keluarganya dimulai.
Sherly bercerita tentang ayahnya, Paulus Tjoanda, seorang anak Makassar yang tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Bukan cerita tentang orang kaya yang sukses sejak awal, melainkan kisah tentang anak kampung yang makan seadanya, hidup sederhana, tetapi memiliki mimpi besar.
“Papa saya sering cerita dulu kalau makan nyuknyang cuma satu mangkuk, isinya tiga butir, tapi kuahnya banyak. Nasinya sampai dua piring karena memang uangnya tidak ada,” cerita Sherly di hadapan para saudagar Bugis Makassar.
Cerita itu sederhana, tetapi menggambarkan masa kecil yang keras. Bagi keluarga mereka, makanan bukan soal pilihan menu, tetapi soal bagaimana bisa kenyang dengan uang yang sangat terbatas.
Makassar yang Membentuk Seorang Pengusaha
Paulus Tjoanda lahir dan besar di Makassar. Kota pelabuhan yang keras, tempat orang belajar bertahan hidup, berdagang, merantau, dan bekerja tanpa banyak mengeluh.

Hidup dalam keterbatasan membuatnya terbiasa bekerja keras sejak muda. Ia menempuh pendidikan teknik, lalu bekerja, hingga akhirnya memberanikan diri membuka bengkel kecil.
Dari bengkel sederhana itu, tidak ada yang menyangka perjalanan hidupnya kelak akan berubah besar.
Dari bengkel, ia mulai belajar memperbaiki mesin dan perlahan masuk ke dunia perkapalan. Awalnya hanya pekerjaan kecil, lalu mencoba membuat kapal sendiri.















