Terkini, Jakarta - Penguatan nilai tukar rupiah kembali terjadi pada awal April 2026. Pada pembukaan perdagangan Rabu (1/4/2026), rupiah tercatat berada di level Rp16.997 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 64 poin atau 0,38 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini membuat rupiah kembali meninggalkan level Rp17.000 per dolar AS yang sebelumnya sempat ditembus.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi. Sejumlah mata uang di kawasan tercatat melemah, seperti yen Jepang dan baht Thailand. Namun beberapa mata uang lainnya justru menguat, seperti yuan China, peso Filipina, dan won Korea Selatan.
Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga mengalami penguatan tipis pada awal perdagangan hari ini.
Tidak hanya di kawasan Asia, mata uang utama negara maju juga mayoritas berada di zona penguatan terhadap dolar AS. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss sama-sama menguat, diikuti dolar Australia dan dolar Kanada yang juga bergerak naik terhadap dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari sentimen global, khususnya terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Pasar disebut merespons positif harapan meredanya konflik setelah adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on, seiring harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah dan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko,” ujar Lukman.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada dalam rentang Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Rentang tersebut menunjukkan rupiah masih berpeluang menguat, namun tetap dibayangi ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta kondisi geopolitik dunia yang masih dinamis dan berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan.















