Selain harga tiket, biaya perubahan tiket internasional yang mencapai sekitar US$450 juga menjadi alasan banyak wisatawan membatalkan perjalanan.
Presiden grup perjalanan Safe Harbors, Jay Ellenby, mengatakan terjadi peningkatan pembatalan perjalanan ke Timur Tengah dari klien Asia.
“Kami melihat peningkatan pembatalan perjalanan sekitar 20 hingga 30 persen untuk rute Timur Tengah dari wisatawan Asia,” kata Ellenby.
Sebagai alternatif, banyak wisatawan kini beralih ke destinasi di Asia Tenggara seperti Singapura serta rute perjalanan intra-Asia yang dianggap lebih aman dan stabil.
Perjalanan Bisnis Juga Terdampak
Tidak hanya sektor pariwisata, perjalanan bisnis internasional juga terdampak konflik. Sejumlah perusahaan multinasional dilaporkan menunda perjalanan ke wilayah berisiko demi keamanan karyawan.
Data dari agen perjalanan bisnis Perk menunjukkan bahwa pembatalan penerbangan sukarela pada rute Eropa ke Asia meningkat lebih dari dua kali lipat pada pekan pertama Maret 2026.
Presiden Perk, JC Taunay-Bucalo, mengatakan lonjakan pembatalan tersebut mencerminkan sikap perusahaan yang lebih berhati-hati terhadap keselamatan karyawan.
“Perusahaan kini mengevaluasi kembali perjalanan bisnis ke wilayah berisiko dan mempertimbangkan opsi yang lebih aman bagi karyawan mereka,” ujarnya.
Salah satu contoh dampak nyata dialami oleh Vincent Siow, General Manager Novo Nordisk wilayah Singapura dan Brunei.
Penerbangannya dari Kopenhagen menuju Singapura pada 28 Februari terpaksa dibatalkan, sehingga ia sempat tertahan di Dubai dan harus menempuh rute penerbangan yang jauh lebih panjang melalui Doha, Riyadh, dan Istanbul sebelum akhirnya kembali ke Singapura.















