Terkini, Jakarta — Fenomena ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan atau mismatch tenaga kerja di Indonesia dinilai semakin mengkhawatirkan.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center mengungkapkan bahwa hanya sekitar 40 persen pekerja di Indonesia yang bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.
Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan kondisi tersebut menjadi sinyal serius bagi pembangunan ekonomi nasional, terutama di tengah bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia.
Menurutnya, ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri telah menciptakan inefisiensi besar di pasar kerja.
“Kita sedang menghadapi situasi di mana ijazah sering kali tidak menjadi tiket utama di pasar kerja. Ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri telah menciptakan inefisiensi masif yang jika dibiarkan akan menjadi bom waktu bagi pembangunan nasional,” ujar Herry Gunawan dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, persoalan mismatch tenaga kerja di Indonesia terbagi menjadi dua kategori utama, yakni mismatch vertikal dan mismatch horizontal.
Mismatch vertikal terjadi ketika tingkat pendidikan pekerja tidak sesuai dengan level pekerjaan yang dijalani, sedangkan mismatch horizontal terjadi ketika bidang studi yang ditempuh berbeda dengan profesi yang dijalankan.
Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2023, mismatch vertikal di Indonesia mencapai 57,3 persen. Angka tersebut terdiri dari pekerja undereducated sebesar 40,4 persen dan overeducated sebesar 16,9 persen.
Herry menyebut kondisi itu paling banyak dialami lulusan pendidikan tinggi yang justru bekerja di bawah kualifikasi akademiknya.
“Jadi cuma sekitar 40 persen yang bekerja sesuai dengan pendidikannya,” katanya.















