Fenomena Mismatch Kian Parah, Banyak Sarjana Bekerja di Luar Bidang

Fenomena Mismatch Kian Parah, Banyak Sarjana Bekerja di Luar Bidang

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sementara itu, mismatch horizontal juga masih tinggi. Sekitar 33,5 persen lulusan pendidikan tinggi bekerja di bidang yang tidak relevan dengan latar belakang studinya.

Bahkan, lulusan diploma DI, DII, dan DIII disebut memiliki tingkat mismatch horizontal tertinggi, yakni mencapai 42,03 persen.

NEXT Indonesia Center juga menyoroti dominasi sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, jumlah pekerja informal mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 56 hingga 60 persen dari total tenaga kerja nasional.

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding pekerja formal yang tercatat sebanyak 59,93 juta orang.

Menurut Herry, tingginya pekerja informal menjadi salah satu penyebab utama mismatch karena sektor tersebut umumnya tidak membutuhkan keterampilan spesifik.

Selain itu, lulusan berpendidikan SMA ke atas justru membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan dibandingkan kelompok berpendidikan rendah.

Kondisi itu memperlihatkan belum selarasnya kebutuhan industri dengan output pendidikan nasional.

Fenomena mismatch juga berdampak terhadap kesejahteraan pekerja. Pekerja yang bekerja tidak sesuai kompetensinya cenderung menerima upah lebih rendah dan mengalami stagnasi penghasilan.

NEXT Indonesia Center mencatat kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin didominasi pekerja informal.