“Ini pekerjaan rumah yang sangat relate dengan kita sebagai penyedia jasa wisata yaitu kita sebagai SDM-nya,” ujar Martini.
Kemenpar telah menyiapkan berbagai modul pelatihan keselamatan wisata untuk aktivitas berisiko tinggi seperti wisata gunung, wisata tirta, arung jeram, hingga snorkeling. Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi bersama asosiasi, akademisi, dan praktisi pariwisata.
Selain itu, Kemenpar juga tengah menyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) hingga 2045 sebagai arah besar pembangunan sektor pariwisata nasional.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Reza Fahlevi, mengatakan pengembangan destinasi wisata harus berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing global.
“Ada lima elemen kunci dan program dalam destination management, yakni strategic planning, stakeholder collaboration, sustainability, visitor experience, dan risk management,” kata Reza.
Dalam sektor event, Asisten Deputi Event Internasional Kemenpar, Hafiz Agung Rifai, mengungkapkan sepanjang 2025 sektor event pariwisata menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp23,76 triliun dengan jumlah pengunjung lebih dari 12 juta orang.
“Ini menunjukkan bahwa event memiliki daya ungkit ekonomi yang cukup besar,” ujarnya.
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Kemenpar, Norman Sasono, menambahkan seluruh program lintas kedeputian disusun dalam kerangka pembangunan nasional yang terintegrasi.
“Pembangunan pariwisata merupakan turunan dari rencana pembangunan jangka panjang nasional yang kemudian diturunkan ke dalam rencana pembangunan jangka menengah,” kata Norman.
Rakornas Pariwisata 2026 diharapkan menjadi pedoman bersama bagi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pembangunan pariwisata Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.














