Iman Shamsi Ali Sebut Islam Berkembang Pesat di AS Meski Dihantam Islamofobia

Iman Shamsi Ali Sebut Islam Berkembang Pesat di AS Meski Dihantam Islamofobia

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Jakarta — Imam Besar New York asal Indonesia, Shamsi Ali, mengungkapkan bahwa jumlah warga Amerika Serikat yang memeluk Islam meningkat drastis setelah tragedi 11 September 2001 (9/11).

Fenomena tersebut terjadi di tengah meningkatnya Islamofobia dan tekanan besar terhadap komunitas Muslim di Negeri Paman Sam.

Pernyataan itu disampaikan Shamsi Ali dalam Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (23/5).

Menurutnya, tragedi 9/11 menjadi momentum paradoksal bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat.

Di satu sisi, umat Muslim menghadapi diskriminasi dan pengawasan ketat. Namun di sisi lain, masyarakat Amerika justru semakin tertarik mengenal Islam lebih dalam.

“9/11 adalah momentum paradoksal. Di satu sisi, komunitas Muslim menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Di sisi lain, justru itulah titik ketika Islam tumbuh paling pesat dalam sejarah Amerika,” ujar Shamsi Ali.

Ia menjelaskan, pasca-serangan 9/11 pemerintah Amerika Serikat memberlakukan sejumlah kebijakan ketat terhadap komunitas Muslim, termasuk penerapan Patriot Act, profiling terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, hingga pengawasan intensif terhadap masjid-masjid oleh Kepolisian New York (NYPD).

Selain itu, data Federal Bureau of Investigation (FBI) menunjukkan angka kejahatan berbasis kebencian atau hate crime terhadap Muslim meningkat tajam pada periode tersebut.

Meski demikian, Shamsi Ali menyebut tekanan tersebut justru memicu rasa penasaran masyarakat Amerika terhadap Islam. Al-Qur’an menjadi salah satu buku yang paling banyak dicari dan dibaca saat itu.

“Setiap kali tekanan datang, Islam justru semakin dikenal. Kebencian itu tanpa sadar telah menjadi jalan dakwah yang paling efektif,” katanya.