Menurutnya, tingginya minat masyarakat Taiwan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, ditambah dengan semakin baiknya konektivitas udara, menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperbesar pangsa pasar.
“Karena itu, kita perlu memperkuat promosi, memperluas kerja sama B2B, dan menawarkan lebih banyak destinasi Indonesia di luar Bali,” kata Arif.
Ia menilai kolaborasi antara Kemenpar, KDEI Taipei, maskapai penerbangan, asosiasi, agen perjalanan, tour operator, hotel, serta pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mengubah potensi pasar Taiwan menjadi peningkatan nyata jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah industri pariwisata Indonesia turut berpartisipasi, di antaranya ARSAwisata Tours, Panorama Destination, Floressa Bali Tours, Java Traveller Indonesia, Bali Megah Wisata (BMW), TJTS-Bali, PT Anugerahjaya Sukses Lestari, Travel Hangar, PT Yorker Holidays DMC, Elior Tour, Monas Tours & Travel, STAT Indonesia Tours, The Saku Travel, dan Zada Liveaboard.
Dari sektor akomodasi, peserta yang hadir antara lain Impiana Private Villas Seminyak, Louvre Hotels Group South East Asia, Hotel Kimaya Sudirman Yogyakarta by HARRIS, Hotel MaxOne Ubud, Tijili Benoa Hotel, PHM Hotels, dan Lereng Bromo Hotel.
Melalui Wonderful Indonesia Sales Mission, Kemenpar berharap promosi yang lebih terarah, penguatan kerja sama B2B, serta peningkatan konektivitas dapat mendorong wisatawan Taiwan untuk memperluas pilihan destinasi mereka di Indonesia.
Dengan demikian, pertumbuhan pasar Taiwan tidak hanya terkonsentrasi di Bali, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi berbagai destinasi pariwisata di Tanah Air.














