Terkini.id, Jakarta - China tutupi pasien nol dengan hapus data Covid-19, ini alasan ilmuwan. Terkait asal mula terjadinya wabah corona di Wuhan Hubei China, masih menjadi polemik hingga kini. Pasalnya, sebuah studi dari ilmuwan mengungkapkan jika China menutup-nutupi pasien nol Covid-19, dengan menghapus data virus corona.
Studi ini juga menunjukkan, virus corona sudah menjadi bencana sebelum terdeteksi di pasar basah di Wuhan pada pengujung 2019 lalu. Ilmuwan juga menyebut, Covid-19 awal yang diselidiki Badan Kesehatan Dunia atau WHO, tidak sepenuhnya mewakili jenis virus yang beredar di bulan-bulan pertama.
Laporan itu dimasukkan dalam makalah penelitian, “Pemulihan data sekuensing mendalam yang dihapus menyoroti lebih banyak tentang epidemi SARS-CoV-2 Wuhan awal” oleh Jesse Bloom, profesor di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutch yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat (AS).
Kumpulan data yang berisi urutan SARS-CoV-2 dari awal epidemi Wuhan dihapus dari Arsip Baca Urutan Institut Kesehatan Nasional, menurut makalah yang keluar pada Rabu 23 Juni 2021, seperti dikutip dari The Sun dan diwartakan Kompas, Kamis 24 Juni 2021.
“Saya memulihkan file yang dihapus dari Google Cloud, dan merekonstruksi sebagian urutan dari 13 virus epidemi awal,” tulis Prof Boom dalam abstrak laporan tersebut.
Ia tidak menemukan alasan masuk akal untuk file hilang yang dihapus, dan penjelasan paling mungkin menurutnya adalah China menghapusnya untuk mengaburkan keberadaan mereka (pasien nol corona).
"Sampel dari pasien rawat jalan awal di Wuhan adalah tambang emas bagi siapa pun yang ingin memahami penyebaran virus. Tidak ada alasan ilmiah yang masuk akal untuk penghapusan: urutannya sangat sesuai dengan sampel yang dijelaskan dalam Wang et al. Oleh karena itu, tampaknya urutan itu dihapus untuk mengaburkan keberadaannya."
Laporan ini muncul setelah ilmuwan Inggris yang mencoba membungkam teori kebocoran laboratorium Wuhan, dikeluarkan dari komisi PBB yang menyelidiki asal-usul Covid-19.
Dr Peter Daszak dikeluarkan dari penyelidikan Lancet yang didukung PBB, karena ia berulang kali mengabaikan tuduhan virus corona hasil kebocoran Institut Virologi Wuhan (WIV). Dr Daszak adalah presiden dari EcoHealth Alliance, organisasi berbasis di AS yang diketahui menyalurkan uang pembayar pajak ke WIV untuk melakukan penelitian fungsi virus corona dari kelelawar.
Pria berusia 55 tahun itu memiliki hubungan dekat dengan kepala laboratorium Dr Shi Zhengli yang berjuluk Batwoman. Dr Daszak adalah bagian dari tim WHO yang berkunjung ke Wuhan awal tahun ini. Ia tetap terdaftar di situs web The Lancet COVID-19 Commission, tetapi profilnya diperbarui untuk menunjukkan kepergiannya. Di bawah foto dan biografinya sekarang tertulis, "Dicabut dari pekerjaan Komisi tentang asal usul pandemi".















