Diskusi NU: Pemerintah Lebih Fokus ke Hilirisasi Tambang Dibanding Agraria dan Kelautan

Diskusi NU: Pemerintah Lebih Fokus ke Hilirisasi Tambang Dibanding Agraria dan Kelautan

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Rumadi menjelaskan bahwa entitas pertama disebut sebagai entitas negara, di mana kekuatan politik terdapat di dalamnya. Menurutnya, inti dari politik adalah bagaimana mendapatkan kekuasaan.

Ia mengatakan bahwa hampir semua energi manusia digunakan untuk mencari cara agar otoritas negara dapat dikuasai, yang pada akhirnya mengendalikan otoritas tersebut. Rumadi menyimpulkan bahwa dari kekuasaan negara, seseorang dapat memperoleh berbagai macam keuntungan, termasuk keuntungan politik.

Entitas kedua disebut kekuatan bisnis. Ia menjelaskan kekuatan bisnis dan ekonomi bisnis adalah tempat di mana seseorang bisa memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mengelola uang.

Ia menyatakan, ideologi dalam ranah ini bervariasi. Rumadi juga menekankan bahwa di dalam lingkup ekonomi bisnis, terdapat aturan sendiri, namun intinya adalah bagaimana seseorang bisa memperoleh keuntungan. Rumadi menyimpulkan bahwa kekuatan ekonomi bisnis tidak boleh diabaikan.

“Kemudian yang ketiga aktor yang terkait dengan masyarakat, society. Sebenarnya ketika kita berbicara imagining future the society, kita bicara ketiga ini, bagaimana kekuatan masyarakat itu tidak ditabrak oleh kekuatan negara, politik, dan juga tidak ditabrak oleh kekuatan ekonomi bisnis,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Peneliti Wahid Foundation, Alamsyah Ja’far. Ia menjelaskan, termasuk tantangan masa kini adalah keseimbangan antara negara, masyarakat, dan pasar. Alam melihat NU sebagai kekuatan penting yang dapat berkontribusi pada keseimbangan ini. Ia juga menyebutkan kemungkinan adanya kekuatan baru, seperti media sosial, yang dapat memengaruhi dinamika sosial politik.

“Demokrasi atau masyarakat akan baik kalau terjadi keseimbangan tiga institusi, yang pertama adalah state (negara), yang kedua civil society, yang ketiga adalah market. Kalau ketiga ini tidak imbang, maka akan terjadi masalah-masalah,” ujarnya

Alamsyah menyoroti tantangan NU dalam menghadapi instrumentalisasi, di mana kegiatan sosial politik dijadikan alat oleh pihak tertentu. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan sumber daya kultural NU untuk berperan dalam perdebatan etika moral, terutama terkait dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

“Penting sekali untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki apa itu? Sumber daya kultural. Kalau kita membayangkan yang 10 tahun terjadi adalah perdebatan etik moral, misalnya soal AI dan lain-lain, siapa organisasi yang memiliki kekuatan etik moral, saya kira NU menjadi bagian yang penting,” pungkasnya.(nu.or.id)