Demikian pula Anies, rekam jejaknya tidak akan bisa ditutupi bahwa perjuangannya untuk mewujudkan kesetaraan itu bersifat menyeluruh, menyentuh semua segmen masyarakat.
Secara agama semua menikmati hasil usaha itu. Dan secara strata sosial ekonomi Anies menghadirkan motto: “membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar”.
Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah bahwa di tengah tantangan yang dahsyat itu keduanya terus melangkah dalam perjuangan dengan penuh harapan dan optimisme.
Kita diingatkan pidato monumental Martin Luther dengan judul “I have a dream” (saya bermimpi).
Demikianlah Anies melangkah bahkan di tengah terpaan badai yang besar, dia terus dan terus melangkah memperjuangkan cita-cita dan amanah kemerdekaan itu.
Kita mengenal bahwa sejak awal Anies terlibat dalam politik sebagai calon Gubernur ketika itu beliau menghadapi tantangan yang tidak mudah.
Frame yang terbangun sangat dahsyat untuk bisa mengganjal dan menjatuhkannya di tengah jalan.
Beliau hadir dalam kancah itu di tengah badai ketidak nyamanan politik dan sosial. Tapi dengan semangat tinggi dan optimisme tadi semua dilalui dengan sangat baik.
Mungkin tidak semua politisi yang menghadirkan janji-janji politik yang semuanya ditunaikan, bahkan melebihi dari janji-janji kampanyenya.
Mungkin yang paling jelas adalah bagaimana berbagai program dan inisiatif beliau sebagai Gubernur ketika itu berusaha diganjal dan digagalkan karena satu tujuan.















