Selain proses alam tersebut, konon danau ini juga memiliki cerita rakyat dan legenda yang menambah daya tarik tersendiri.
Sementara Gamalama merupakan gunung merapi tertinggi di Maluku Utara Ternate. Kalian menyesal, apabila kalian ke Ternate tidak menyambangi danau berwarna hijau seperti batu bacan itu.
Dari papan informasi yang mulai memudar, bahwa danau tersebut berlokasi di Desa Takome Kecamatan Pulau Ternate, dibutuhka waktu sekitar 60 menit dengan perjalanan darat dari pusat kota. Menariknya sepanjang perjalanan ke tempat ini kalian akan disuguhi keindahan alam yang berbeda dari yang lain.
Berdasarkan sejarah Geologi terbentuknya danau ini akibat letusan freatik yang pernah terjadi di daerah ini. Danau Vulkanik (Maar). Pada suksesi
Gunung Gamala Tahun 1775. Letak Maarnya pada sayap punggungan Gunung Gamalama (Bronto 1982). Dari kedua Danau ini memilki keunikan tersendiri. Danau Tilore ini menyerupai loyang raksasa, mulai dari pinggir atas hingga ke permukaan air danau dengan kedalaman 50 Meter dan luas 5 hektare, kedalaman maksimum danau 431 meter, diameter 600 meter, luas badan air 26,5 Ha, kecerahan danau 4 meter (Wibowo dkk, 2014).
Menurut legenda yang terpampang nyata di depan mata, Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, masyarakat setempat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter.
Pecahnya danau tersebut konon katanya karena kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memerkosa anak gadisnya. Setelah tragedi memilukan tersebut terjadi longsor dan danaunya meluap.
Akibatnya, Desa Takome tenggelam, anehnya setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian, Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud sebagai sang ayah. Sementara itu Danau Tolire kecil diperkirakan sebagai wujud anak gadis.
Hingga saat ini, banyak masyarakat meyakini mitos bahwa danau yang airnya berwarna hijau itu, dihuni oleh banyak buaya siluman berkepala putih.
Keunikan lain dari danau ini adalah kalau melempar batu atau kerikil ke danau, bagaimanapun kuatnya lemparan dengan menggunakan batu atau kerikil tidak akan pernah menyentuh air danau. Padahal saat melempar dari pinggir atas danau, air danau terlihat berada di bawah kaki si pelempar. Kami penasaran dengan cerita tersebut yang pertama kali berkunjung ke danau ini. Sayangnya kami tak menemukan kerikil atau batu sebijipun. Boleh jadi keberadaan kerikil dan batu tersebut sengaja dibersihkan dan diperjual belikan oleh pedagang sekitar danau.

Air Guraka/Jahe















