Dekade Kelima Mengawal RI Menuju Lima Besar Pemain Aluminum Dunia

Dekade Kelima Mengawal RI Menuju Lima Besar Pemain Aluminum Dunia

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara mengatakan pangsa pasar mobil berbasis baterai BEV (battery electric vehicle) kini sekitar 9,8 hingga 10 persen dari total penjualan mobil nasional.
Fase transisi menuju produksi lokal diperkirakan dimulai pada tahun 2026, dengan harapan infrastruktur dan regulasi berjalan beriringan.

Lewat laman resmi Gaikindo, Kukuh menyebut merek dan model kendaraan listrik makin banyak, sehingga semakin dinamis. Peluang penggunaan komponen dalam negeri, juga semakin besar.

Apalagi, pemerintah sebelumnya menetapkan penghentian fasilitas insentif 0% impor utuh (completely built up, CBU) untuk mobil listrik mulai 31 Desember 2025, sesuai Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 junto Nomor 1/2024. Setelah itu, seluruh produsen wajib memenuhi komitmen produksi lokal dengan skema 1:1, yakni jumlah mobil impor harus diimbangi produksi lokal yang setara.

Kebutuhan Aluminium Nasional

Aluminium menjadi bagian penting dari ekosistem industri di Tanah Air, khususnya kendaraan berbasis baterai listrik. Kebutuhan aluminium secara nasional saat ini berkisar 1,2 juta ton per tahun, sehingga sebagian industri hilir pun harus melakukan impor bahan baku.

Menurut Ismadi, kapasitas industri aluminium seluruh Indonesia nantinya akan mencapai sekitar 4 juta ton per tahun, dengan kebutuhan alumina sekitar 8 juta ton.

"Hitungannya untuk memproduksi 4 juta ton aluminium, berarti butuh bahan baku alumina 8 juta ton (perbandingan 1:2). Jadi, nanti smelter hijau Inalum di Kuala Tanjung bisa kita tingkatkan kapasitasnya menjadi 400 ribu ton. Ditambah smelter di Mempawah, dengan kapasitas 600 ribu ton, sehingga dari Inalum saja bisa sekitar 1 juta ton. Dengan hadirnya industri-industri aluminium lain di Kalimantan, Sulawesi, kapasitas aluminium RI bisa menjadi 4 juta ton per tahun," papar Ismadi lagi.

Menariknya, Inalum sudah mulai melepas ketergantungan pasokan bahan baku alumina dari luar. Kapal-kapal yang menyuplai puluhan ribu ton alumina ke Kuala Tanjung, bukan lagi dari Australia atau negara lain, melainkan dari Mempawah, Kalimantan Barat.

Sejak tahun lalu, pabrik pemurnian bauksit atau Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 1 hasil investasi Inalum dan PT Aneka Tambang (ANTM) resmi beroperasi dan mulai mengirimkan Alumina ke Kuala Tanjung. Ada 28.000 ton alumina yang diangkut setiap kali pengiriman, dalam waktu 3-4 hari.

“Tahun lalu (tahun 2024, red), kapal yang membawa alumina kebanyakan dari Australia. Tahun ini, sudah dari Mempawah,” ujar Muslim Nordin Giban, Operasional Pelabuhan Inalum, kepada wartawan yang berkunjung, Oktober 2025 lalu..

SGAR 1 Mempawah, yang dioperasikan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), memproduksi 1 juta ton alumina per tahun. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan alumina smelter Inalum di Kuala Tanjung.