“Rekan kerja laki-laki juga memberi ruang bagi kami untuk berkontribusi. Itu membuat perempuan di industri ini bisa berkembang dan menunjukkan kemampuan secara profesional,” tambah alumni Magister Manajemen Keberlanjutan (Sustainability) Universitas Trisakti tersebut.
Belajar Tangguh dari Dunia Tambang
Bekerja di industri tambang memberi banyak pelajaran bagi Asriani.
Ia belajar tentang ketangguhan menghadapi kondisi kerja yang menantang, pentingnya profesionalisme dalam membangun kepercayaan tim, serta kepercayaan diri untuk bersaing secara kompeten. Namun perjalanan itu juga diiringi tantangan yang tidak ringan.
Selain stereotip bahwa pekerjaan tambang terlalu berat bagi perempuan, lingkungan kerja yang mayoritas laki-laki menuntut kemampuan adaptasi sosial dan profesional yang kuat.
Di sisi lain, ia juga harus menyeimbangkan perannya sebagai pekerja profesional dengan kehidupan keluarga.
Selama lima tahun terakhir, Asriani menjalani sistem kerja FIFO (fly-in fly-out), dengan pola empat minggu bekerja di lokasi tambang dan dua minggu masa istirahat.
Bagi seorang perempuan yang juga berperan sebagai istri dan ibu, ritme kerja seperti ini tentu bukan hal mudah.

“Ini menjadi tantangan besar bagi saya, suami, dan anak-anak. Tetapi kami memahami bahwa ini adalah pilihan yang harus dijalani bersama. Kami menjalaninya dengan kepercayaan dan saling mendukung,” ungkap perempuan yang hobi traveling tersebut.
Industri yang Semakin Inklusif
Menurut Asriani, industri pertambangan kini perlahan berubah menjadi lebih inklusif. Banyak perusahaan mulai menerapkan kebijakan diversity and inclusion, menyediakan fasilitas kerja yang lebih ramah perempuan, serta membuka peluang karier yang lebih luas.














