Terkini, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti tingginya frekuensi bencana alam yang terjadi di Indonesia sejak awal tahun 2026.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tercatat sebanyak 693 kejadian bencana terjadi dalam periode Januari hingga 6 April 2026.
Menurut Puan, tingginya angka tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia masih berada dalam kondisi rentan terhadap risiko kebencanaan yang belum tertangani secara sistematis oleh negara.
“Dengan masih banyaknya bencana alam, terutama yang berulang, hal ini menunjukkan bahwa kerentanan masyarakat terhadap bencana belum banyak bergeser dan harus segera mendapat solusi yang komprehensif,” ujar Puan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menilai, pola kejadian bencana yang terjadi dalam waktu berdekatan di berbagai wilayah menjadi indikator meningkatnya kompleksitas ancaman kebencanaan, baik dari sisi frekuensi, distribusi wilayah, maupun dampak sosial yang ditimbulkan.
“Ketika banjir mendominasi, disusul angin kencang, longsor, hingga gempa bumi dalam kurun waktu yang berdekatan, maka persoalannya tidak lagi dapat dipahami sebagai fenomena musiman semata,” jelasnya.
Puan menambahkan bahwa kondisi tersebut memperlihatkan masih banyaknya kawasan permukiman yang berada dalam situasi rentan, khususnya terhadap bencana yang terjadi secara berulang.
Ia menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya pada aspek respons darurat, tetapi juga pada kemampuan negara dalam mengidentifikasi dan mengantisipasi pola kerentanan yang berulang.
“Tantangan terbesar bukan hanya bagaimana negara bergerak setelah kejadian, tetapi bagaimana sistem nasional mampu membaca pola kerentanan yang terus muncul di wilayah yang sama,” tegas politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Lebih lanjut, Puan menyoroti dominasi bencana banjir sebagai sinyal adanya persoalan mendasar dalam tata kelola sumber daya air, kapasitas lingkungan, serta kesiapan kawasan permukiman dalam menghadapi perubahan risiko.















