Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi
Setelah wafatnya Paman dan berpulangnya isteri beliau ke Rahmatullah’, tantangan yang dihadapi Rasulullah di Mekah semakin menjadi-jadi.
Dan itu merupakan anti klimaks dari rentetan tentangan yang terjadi kepada beliau dan para sahabatnya.
Dari halangan dalam menjalankan Dakwah, intimidasi dan kekerasan, hinaan dan cacian, hingga boikot kepada keluarga Rasulullah Bani Hasyim.
Rasulullah SAW sebagai nabi dan Rasul menghadapinya dengan iman yang kokoh, kesabaran tanpa pernah melemah apalagi frustrasi. Tapi sebagai manusia beliau merasakan tekanan dahsyat dan beratnya tantangan itu.
Terasa sumpek dalam dada beliau. Ada titik-titik nadir yang terjadi dalam perjalanan hidup dan perjuangan yang beliau rasakan.
Di saat-saat seperti itulah, sebagaimana sebelumnya, seperti di saat menerima wahyu pertama, di saat terputusnya wahyu beberapa masa (peristiwa Iqra’ dan turunnya Surah Al-Muzzamil), Allah kembali melakukan intervensi khusus bagi sang kekasihNya.
Kali ini Allah memberikan hadiah spesial kepada beliau berupa perjalanan agung di malam hari. Itulah yang dikenal dengan Al-Isra’ wal Mi’raj (Surah Al-Isra ayat 1).
Saya tidak bermaksud membicarakan kronologis peristiwa al-Isra wal Mi’raj lagi. Saya yakin kita semua mengetahui bahkan menghafalnya.
Saya justeru ingin menyampaikan beberapa makna penting dari peristiwa perjalanan mulia (Isra’ Mi’rah) sang mulia (Muhammad) oleh Yang Mulia (Allah SWT) ke Maqaam yang mulia (Sidratul Muntaha).
Di antara sekian banyak makna-makna dan pelajaran penting itu ada lima hal yang ingin saya garis bawahi kali ini.















