Isra' Mi'raj dan Kepemimpinan

Isra' Mi'raj dan Kepemimpinan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Pertama, Al-Isra wal Mi’raj memaknai kehidupan sebagai perjalanan hidup yang penuh tantangan dan rintangan.

Bahwa hidup itu adalah perjalanan. Dan perjalanan itu memang identik dengan tantangannya. Tapi di balik tantangan itu justeru terletak tidak saja solusi. Tapi kemudahan dan pintu kemuliaan dari Allah SWT.

Seperti yang disebutkan terdahulu bahwa peristiwa ini terjadi di saat-saat tantangan kepada Rasulullah mencapai anti klimaks.

Maka Al-Isra’ Wal Mi’raj adalah pintu penyelesaian sekaligus pintu kemuliaan dan kemenangan baginda Rasulullah dan perjuangannya.

Kedua, fondasi atau modal terbesar bagi terwujudnya pintu kemuliaan dan kemenangan itu adalah dengan iman yang kokoh tak tergoyahkan.

Berbagai intimidasi, kekerasan, caci maki, boikot hingga ke pembunuhan sahabat-sahabatnya (Keluarga Yasir), Rasulullah dengan segala rasa keterbatasannya sebagai manusia menghadapi semua itu dengan kokoh dan tegar.

Fondasi iman yang kokoh itulah yang membawanya berjalan dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa.

Pergerakan hidup secara horizontal dari pijakan pengabdian (Masjid) ke pijakan pengabdian (Masjid) yang lain.

Lalu pada akhirnya diangkat ke atas (pergerakan vertikal) hingg mencapai tingkat ketinggian (kemuliaan) di sisiNya.

Ketiga, kedua bentuk perjalanan (pengabdian hidup) itu, vertikal dan horizontal, hanya akan terjadi secara baik dan benar ketika “insaniat“ (kemanusiaan) kita hidup dan sehat.