Isra' Mi'raj dan Kepemimpinan

Isra' Mi'raj dan Kepemimpinan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Proses yang dimulai dengan kekuatan iman dalam menghadapi tantangan, memulai perjalanan dengan pembersihan (tazkiyah), pilihan hidup yang baik, hingga perperjalanan horizontal dan vertikal, dan diberikannya perintah Sholat kepada Rasulullah SAW.

Semua proses di atas mengantar kepada kemenangan dengan diberikannya kepemimpinan itu. Itulah sesungguhnya yang tergambar dari “imamah” (imamnya) Rasulullah untuk semua nabi dan Rasul.

Bahwa semua proses perjalanan tadi yang diakhiri dengan pemberian Sholat adalah tangga-tangga menuju kepada kepemimpinan yang dikehendaki.

Kepemimpinan dalam konteks Isra Mi’raj ini berkarakter: Satu, perjuangan (tantangan). Dua, pembersihan (pensucian dada).

Tiga, kemampuan mendeteksi dan memilih yang baik dari yang buruk (susu vs khamar). Empat, terbangun dengan “mendirikan Sholat”.

Karena Sholat adalah tiang agama, mi’rajul Mukmin, dan pintu kemenangan.

Beberapa hari lagi ke depan bangsa Indonesia akan menentukan pemimpinnya untuk lima tahun ke depan.

Tentu semua proses yang terjadi dalam perjalanan Isra Mi’raj harus menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Di antara hal yang menjadi pertimbangan adalah calon yang paling tertantang dan tegar menghadapi tantangan itu. Tidak cengeng atau emosian. Tidak juga menggunakan cara-cara nepotis memuluskan jalan.

Calon yang paling dekat kepada karakter tazkiyah (menjaga kesucian hati). Bukan yang manipulatif tanpa mengindahkan etika dan aturan.