Mungkin hal ini dapat disebut “secular extremism” yang ingin mendominasi dunia kita saat ini. Dan sesungguhnya jika kita merujuk kepada teori “clash among civilization” atau perbenturan peradaban inilah yang sedang terjadi.
Karenanya yang sedang terjadi bukan perbenturan antar agama. Tapi terjadi perbenturan antara agama dan nilai-nilai moralitas dengan tatanan dan nilai-nilai baru yang diakui modern oleh dunia Barat.
Masalahnya memang ketika kita menyebut kata “agama” dan “moralitas” hanya Islamlah yang konsisten dengan prinsip-prinsipnya. Dan karenanya jangan heran jika pelecehan kepada Yesus di acara pembukaan Olympiade itu terasa dingin-dingin saja di kalangan umat lain.
Bayangkan jika yang dilecehkan itu adalah nabi Muhammad (SAW). Umat Islam di seluruh belahan dunia akan bereaksi. Sikap umat Islam itu bukan karena ekstremisme. Tapi karena “ghirah” pembelaan kepada prinsip beragama dan moralitas yang masih hidup.
Terserah orang lain melabelnya. Tapi umat ini tak akan rela agama dan tatanan moralitasnya terinjak-injak oleh kecenderungan hawa nafsu manusia yang mengaku lebih beradab.
Dunia memang semakin gila. Karenanya Islam hadir untuk penyembuhan itu. Jangan heran jika lihat akhir-akhir ini kita lihat gelombang konversi ke agama Islam menjadi semakin tak terbendung.
Islam akan menjadi agama dominan dunia, bukan dengan pedang dan senjata. Tapi dengan nilai-nilai kehidupan yang memang secara alami sejalan dengan tabiat dasar manusia (human nature).
Manhattan, 29 Juli 2924
Presiden Nusantara Foundation/NYHHC Chaplain at Bellevue Hospital















