Indonesia tidak kekurangan aturan, tidak kekurangan agama, dan tidak kekurangan orang pintar. Yang masih kurang adalah keberanian untuk menempatkan akal di posisi yang semestinya, sebagai pengarah, bukan pelayan nafsu.
Selama akal masih bisa dibenahi, harapan untuk keluar dari carut-marut ini belum sepenuhnya hilang.
Dari sanalah, mungkin, stabilitas dan keseimbangan yang kita rindukan dapat mulai dibangun kembali.
Solusi akan selalu ada, selama semua elemen dalam sebuah komunitas mau dan berkomitmen untuk melakukan perubahan yang baik demi kepentingan bersama.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip epilog Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dari Prof. Zainal Arifin Mochtar, bahwa “Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”
Sehingga, senjata utama kita hari ini bahkan seterusnya dalam mengupayakan kebaikan, termasuk untuk diri kita sendiri dan bangsa ini adalah akal yang saleh.















