Indonesia Butuh Akal yang Saleh

Indonesia Butuh Akal yang Saleh

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Akal adalah navigator. Tanpa akal yang difungsikan secara jujur, kebebasan hanya akan menjadi jalan pintas menuju kekacauan, bahkan kehancuran.

Jika kita menelaah kondisi Indonesia hari ini dengan jujur, persoalannya bukan karena masyarakat atau para pemimpin kurang pintar.

Banyak dari mereka berpendidikan tinggi, memahami hukum, bahkan menguasai bahasa agama dengan sangat baik. Namun, kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan.

Yang sering hilang justru keberanian untuk menggunakan akal sebagai pengontrol hawa nafsu, terutama nafsu berkuasa, nafsu mempertahankan posisi, dan nafsu menumpuk keuntungan pribadi.

Ketika akal tidak lagi memimpin, nafsu akan mengambil alih. Keputusan diambil bukan berdasarkan keadilan, tetapi kepentingan.

Kebijakan dirumuskan bukan demi kemaslahatan bersama, tetapi demi stabilitas semu yang menguntungkan segelintir orang.

Dalam situasi seperti ini, ketidakadilan tidak lagi dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai konsekuensi yang “aman-aman saja”untuk dikompromikan.

Padahal, ketidakadilan yang dibiarkan berlarut-larut selalu menimbulkan kerugian besar, bukan hanya bagi satu orang, tetapi bagi masyarakat secara luas. Terasa secara langsung maupun tidak langsung. Sekejam itu.

Sebagai ‘konsep’ yang bermuara pada keadlian, Islam memandang akal sebagai fondasi utama dalam kehidupan manusia.

Seseorang baru dianggap memiliki tanggung jawab agama ketika akalnya berfungsi. Ini menunjukkan bahwa akal adalah pintu masuk bagi seluruh kewajiban moral.