KEBUTUHAN aluminium diperkirakan semakin besar seiring tingginya penjualan kendaraan berbasis baterai (BEV) dan kebijakan penggunaan komponen dalam negeri atau TKDN. DI satu sisi, cadangan bauksit yang melimpah dan investasi industri yang pesat, bisa membuat RI jadi pemain kelima aluminium dunia.
HUJAN yang turun sejak pagi di kawasan pesisir Kuala Tanjung, lumayan membantu suasana tetap nyaman, saat wartawan finalis Media MIND berkunjung ke dalam pabrik reduksi aluminium PT INALUM, 22 Oktober 2025 lalu. Panas ekstrem yang bersumber dari tungku-tungku peleburan alumina di dalam pabrik, bisa diimbangi dengan udara luar yang sejuk dan basah.
Di dalam pabrik, deretan tungku peleburan tampak beroperasi tanpa henti. Di antara cahaya kekuningan dan suara logam, beberapa petugas terlihat mengenakan alat pelindung diri lengkap (helm, pelindung wajah, sarung tangan tahan panas), serta membawa peralatan tapping. Mereka berdiri di tepi tungku, mengaduk aluminium cair yang mengalir seperti lahar, bersuhu sekitar 960 derajat celsius.
Sesekali, percikan api menyambar. Seorang operator memindahkan kerak yang mengeras di permukaan aluminium cair. Kerak itu harus disingkirkan agar proses tapping berjalan lancar. Tangannya cekatan, dan penuh hati-hati.
Di pabrik reduksi di Kabupaten Batu Bara ini, 510 unit tungku peleburan terpasang berjajar rapi. Sejak mulai beroperasi pada 1983, fasilitas tersebut menjadi jantung produksi aluminium primer. Bahan bakunya adalah alumina —senyawa kimia padat berbentuk serbuk putih yang diperoleh dari pemurnian bauksit. Di dalam tungku-tungku itulah alumina direduksi melalui proses elektrolisis hingga berubah menjadi aluminium cair.
Dari sini, aluminium cair tidak berhenti. Logam panas itu kemudian dioper ke casting plant, tempat ia dicetak menjadi produk aluminium primer yang siap dipasarkan: aluminium ingot, alloy, dan billet. Produk-produk inilah yang menjadi fondasi berbagai industri, mulai dari otomotif, konstruksi, hingga energi.
Pabrik Aluminium milik ALUMINA di Kuala Tanjung, adalah salah satu yang terbaik di Tanah Air. Bahkan merupakan salah satu industri aluminium beremisi paling rendah di Asia. Produknya layak dilabeli 'Aluminium Hijau'.
"Ada ukurannya, yakni berdasarkan besar emisi karbon yang dihasilkan setiap kilogram aluminium. Kami itu cuma menghasilkan 2,5 hingga 2,7 kilogram karbon (CO2) per 1 kilogram aluminium yang kita produksi. Kriterianya 4 kilogram karbon per 1 kilogram aluminium. Jadi di bawah kriteria itu," ungkap Ismadi YS, Kepala Grup Proyek Inalum, saat bincang-bincang dengan dengan wartawan usai kunjungan di pabrik.
Mengapa emisi karbon bisa ditekan? itu karena listrik yang digunakan, berasal pembangkit tenaga air (PLTA) milik INALUM, sekitar 120 kilometer dari Kuala Tanjung. Energi yang disuplai dua pembangkit milik INALUM itu pula yang membuat biaya produksi menjadi lebih murah. Karena menurut Ismadi, biaya pembangkit listrik tenaga air cuma sekitar Rp140 per kWh. Jauh di bawah Pembangkit Batu bara, misalnya, yang biayanya Rp502 per kWh.
Dengan pabrik itu, Inalum bisa memproduksi hingga 278 ribu ton aluminium per tahun. Kira-kira 46 persen berkontribusi terhadap kebutuhan aluminium nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana pentingnya peran Indonesia dalam industri berkelanjutan hijau, jika Inalum bisa meningkatkan kapasitas pabriknya lebih dari 278 ribu itu.















