Selain menyiapkan strategi tersebut, Kementerian Pariwisata juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata nasional.
Kerja sama tersebut melibatkan sejumlah kementerian, antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Imigrasi, dan Kementerian Keuangan.
Beberapa opsi kebijakan yang tengah didorong antara lain penambahan kapasitas kursi penerbangan, peningkatan keterjangkauan harga tiket, serta kebijakan bebas visa kunjungan bagi pasar-pasar potensial.
“Langkah-langkah tersebut penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tengah situasi global yang membutuhkan strategi yang responsif dan adaptif,” kata Widiyanti.
Di tengah tantangan global, pemerintah juga mencatat perkembangan positif dari pasar Asia Timur. Sejumlah maskapai seperti China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern dilaporkan akan menambah frekuensi penerbangan serta membuka rute baru menuju Jakarta dan Bali mulai Mei 2026.
“Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang solid, saya yakin sektor pariwisata Indonesia akan terus tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, dan semakin berdaya saing di tingkat global,” ucap Widiyanti.
Pariwisata Berkontribusi Besar bagi Ekonomi
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa sektor pariwisata Indonesia mencatat kinerja positif sepanjang tahun 2025.
Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp945,7 triliun atau sebesar 3,97 persen.
Capaian tersebut didorong oleh 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, yang tumbuh 10,7 persen secara year-on-year, serta mampu menyerap 25,91 juta tenaga kerja.
Namun demikian, Airlangga mengingatkan bahwa ketahanan sektor pariwisata Indonesia saat ini tengah diuji oleh situasi geopolitik global yang memengaruhi konektivitas penerbangan internasional.















