Dari pertemuan itu, Budi mengetahui bahwa untuk menjadi kontraktor ia harus bisa menggambar teknik atau drafting. Sejak saat itu, ia bertekad mengubah jalan hidupnya.
Ia kemudian mendaftar sekolah gambar teknik. Biaya sekolah cukup mahal, namun justru saat itulah ia terkena PHK karena ikut demonstrasi buruh.
Uang pesangon yang didapat digunakannya untuk sekolah drafting. Keputusan yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
Hanya dalam waktu sekitar empat bulan, Budi berhasil menguasai gambar teknik dan mendapat pekerjaan di kantor kontraktor. Kariernya terus naik, mulai dari tukang gambar, supervisor, hingga akhirnya menjadi project manager.
Di usia 32 tahun, Budi mengambil keputusan besar dalam hidupnya: keluar dari pekerjaan dan membuka usaha sendiri.
Usahanya dimulai sangat kecil, hanya dengan dua karyawan dan usaha las keliling, mengerjakan kanopi dan pekerjaan besi kecil dari rumah ke rumah.
Namun dari usaha kecil itulah semuanya berkembang. Usahanya terus bertumbuh hingga memiliki workshop besar dan menangani proyek konstruksi baja untuk bangunan industri dan komersial.
Perusahaannya kemudian dikenal sebagai perusahaan konstruksi baja yang mengerjakan berbagai proyek besar.
Meski telah sukses dan memiliki banyak karyawan lulusan sarjana bahkan insinyur, Budi tetap memegang prinsip hidup sederhana, yaitu kejujuran, kerja keras, menghormati orang tua, dan mengutamakan ibadah.
Di perusahaannya, ada slogan yang selalu ia tekankan kepada seluruh karyawan: “Utamakan Salat dan Keselamatan Kerja.”















