Indonesia Berutang Budi kepada Jusuf Kalla, Ini Alasannya

Indonesia Berutang Budi kepada Jusuf Kalla, Ini Alasannya

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Jakarta — Tokoh diaspora Indonesia di Amerika Serikat, Shamsi Ali, menilai bangsa Indonesia memiliki utang budi besar kepada Jusuf Kalla atas kontribusinya dalam menjaga perdamaian dan keutuhan negara.

Dalam tulisannya yang diterbitkan dari New York, Shamsi Ali menyebut Jusuf Kalla sebagai sosok pemimpin multi-talenta yang telah memberikan kontribusi nyata, tidak hanya di bidang politik, tetapi juga kemanusiaan dan sosial.

“Beliau adalah sosok pekerja keras, pemberani, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kemanusiaan. Saya menyebutnya sebagai ‘Tiger of the East’,” tulis Shamsi.

Menurutnya, kiprah Jusuf Kalla sudah terlihat jauh sebelum terjun ke dunia politik nasional. Di Sulawesi Selatan, ia dikenal sebagai pengusaha sukses sekaligus tokoh sosial yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemanusiaan.

Peran strategis Jusuf Kalla semakin menonjol pada era Reformasi, terutama saat dipercaya menangani berbagai konflik sosial yang mengancam keutuhan bangsa.

Salah satu kontribusi besarnya adalah dalam penyelesaian konflik di Maluku. Saat konflik bernuansa agama tersebut memicu kekerasan antarwarga, Jusuf Kalla yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat turun langsung melakukan pendekatan damai.

Upaya serupa juga dilakukan dalam meredam konflik di Poso, Sulawesi Tengah. Konflik yang sempat meluas dan melibatkan berbagai kepentingan, termasuk pengaruh luar, berhasil diredam melalui pendekatan dialog dan rekonsiliasi.

Keberhasilan terbesar Jusuf Kalla dalam menciptakan perdamaian, lanjut Shamsi, adalah penyelesaian konflik Aceh yang telah berlangsung lama melalui perundingan dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka.

Kesepakatan damai tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Indonesia karena berhasil mengakhiri konflik berkepanjangan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Dari Maluku, Poso hingga Aceh, semua bisa damai karena ikhtiar seorang putra Sulawesi Selatan,” tulisnya.