Menelisik Filosofi Haji, Ibadah yang Mencakup Segala Dimensi

Menelisik Filosofi Haji, Ibadah yang Mencakup Segala Dimensi

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, JakartaIbadah haji merupakan salah satu bentuk ibadah paling komprehensif dalam ajaran Islam. Selain menjadi rukun Islam kelima, haji dinilai merangkum seluruh dimensi ibadah utama, mulai dari syahadat, shalat, zakat, hingga puasa.

Cendekiawan Muslim, Shamsi Ali, dalam refleksi tertulisnya menyebut haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menyeluruh dan mendalam.

“Haji adalah ibadah yang unik karena mencakup seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, baik lahir maupun batin,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Secara syariat, haji diwajibkan sekali seumur hidup bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat, yakni beragama Islam, berakal, balig, merdeka, serta memiliki kemampuan finansial dan fisik.

Khusus bagi perempuan, sebagian ulama juga mensyaratkan adanya pendamping atau izin dari mahram sebagai bagian dari kemampuan (istitha’ah).

Shamsi menjelaskan, haji merupakan puncak pengamalan rukun Islam. Unsur syahadat, misalnya, tercermin dalam bacaan talbiyah yang dilantunkan jamaah sebagai deklarasi tauhid.

“Talbiyah adalah pernyataan keimanan dan ketundukan total kepada Allah,” jelasnya.

Dimensi shalat dalam haji tampak saat jamaah berada langsung di hadapan Ka’bah, kiblat umat Islam.

Momentum ini menjadi puncak penghayatan spiritual dari ibadah shalat yang selama ini dilakukan dari berbagai penjuru dunia.

Selain itu, haji juga berkaitan erat dengan zakat karena menjadi indikator kemampuan ekonomi seorang Muslim.