Menelisik Filosofi Haji, Ibadah yang Mencakup Segala Dimensi

Menelisik Filosofi Haji, Ibadah yang Mencakup Segala Dimensi

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

“Jika seseorang mampu berhaji, maka secara prinsip ia juga termasuk golongan yang wajib berzakat,” kata pria kelahiran Kajang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan ini.

Nilai puasa pun hadir dalam rangkaian haji melalui berbagai larangan ihram, seperti menahan diri dari ucapan buruk, perdebatan, dan perilaku tercela. Hal ini mencerminkan esensi pengendalian diri sebagaimana dalam ibadah puasa.

Dari sisi bahasa, kata “haji” bermakna perjalanan menuju tempat yang jauh. Akar kata yang sama juga melahirkan istilah “hujjah” yang berarti bukti atau argumentasi. Dalam konteks ini, haji dipahami sebagai bukti kesempurnaan keimanan seorang Muslim.

“Dengan haji, seorang mukmin seakan menghadirkan hujjah di hadapan Allah bahwa ia telah berupaya menyempurnakan keislamannya,” ungkap Imam Besar New York tersebut.

Lebih jauh, rangkaian ibadah haji juga meneladani perjalanan Nabi Ibrahim sebagai simbol kepasrahan total kepada Tuhan.

Sosok Ibrahim dipandang sebagai figur sentral dalam praktik haji karena keteladanan iman dan ketaatannya yang sempurna.

Menutup refleksinya, Shamsi menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual tahunan, melainkan refleksi totalitas keimanan.

“Haji adalah perjalanan jasad, disiplin jiwa, dan kesaksian iman yang berpuncak pada harapan meraih surga,” tutupnya.