Jokowi Tarik Utang Baru Rp 13 Triliun dari World Bank, Digunakan untuk Apa?

Jokowi Tarik Utang Baru Rp 13 Triliun dari World Bank, Digunakan untuk Apa?

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Jokowi tarik utang baru Rp 13 triliun dari World Bank, digunakan untuk apa? World Bank alias Bank Dunia baru saja menyetujui pinjaman baru pemerintah Indonesia sebesar 500 juta dolar AS yang diajukan belum lama ini. Utang baru itu digunakan guna memperkuat sistem kesehatan nasional.

Beberapa di antaranya adalah untuk penambahan tempat isolasi pasien virus corona, tempat tidur rumah sakit, penambahan tenaga medis, laboratorium pengujian, serta peningkatan pengawasan dan kesiapsiagaan menghadapi pandemi Covid-19.

Selain itu, pinjaman dari Bank Dunia juga bakal dipakai pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperluas program vaksinasi Covid-19.

Pada 10 Juli 2021 lalu, Bank Dunia juga sudah menyetujui utang baru yang diajukan pemerintah Indonesia sebesar 400 juta dolar AS.

Sehingga, total utang baru yang ditarik Indonesia selama Juni 2021 sudah mencapai 900 juta dolar AS atau setara Rp 13,04 triliun (kurs Rp 14.480).

“Selain untuk mendukung vaksinasi gratis dari pemerintah, utang ini akan membantu sistem kesehatan Indonesia menjadi lebih baik dan memperkuat sistem pengawasan melalui pengujian dan pelacakan kasus-kasus baru Covid-19,” papar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, seperti dikutip dari laman resmi Bank Dunia, Sabtu 19 Juni 2021.

Terkait pinjaman tersebut, Budi menjelaskan bakal dialokasikan untuk penanganan dan pencegahan varian virus baru dari virus corona.

Masih dikutip dari laman Bank Dunia, pemerintah Indonesia menyebutkan program vaksinasi gratis akan menjangkau 181,5 juta orang dewasa.

Utang baru dari Bank Dunia itu, tidak akan dipakai untuk pengadaan vaksin baru melainkan memperkuat sistem pencegahan dan mendukung pemberian layanan kesehatan secara keseluruhan.

Rinciannya, utang akan digunakan untuk tiga program. Pertama, peningkatan pemberian layanan kesehatan, kedua pengawasan kualitas pengujian di laboratorium. Ketiga, dana akan dipakai meningkatkan komunikasi dan koordinasi tanggap darurat, termasuk dalam hal pengiriman vaksin.

Dengan memperkuat pengujian di laboratorium, diharapkan akan membantu Indonesia dalam mencegah penyebaran varian baru virus corona.

Sementara itu, dana utang yang dipakai untuk koordinasi diharapkan bisa membuat distribusi vaksin bisa lebih merata sesuai dengan prioritas yang adil.

“Utang ini akan membantu Indonesia memberikan vaksin yang aman dan efektif. Ini juga akan memperkuat ketahanan sektor kesehatan negara dan meningkatkan kapasitas respons di luar pandemi,” terang Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen.

"Secara keseluruhan, dukungan dari Bank Dunia ini, bersama dengan dukungan dari mitra pembangunan internasional lainnya, akan memperkuat upaya pemerintah untuk membatasi dampak pandemi secara efisien dan meningkatkan sistem dan layanan kesehatan," tambah Kahkonen.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 membuat ekonomi Indonesia mengalami resesi yang dampaknya diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu lama.

Kendati sistem permodalan perbankan dan lembaga keuangan di Indonesia cukup kuat, namun kurangnya inklusi keuangan bisa membuat Indonesia rentan, khususnya sektor UMKM.

Dengan pinjaman baru, pemerintah Indonesia juga diharapkan dapat memberikan dukungan lebih luas terhadap kelompok masyarakat yang selama ini belum terlayani perbankan.

Adapun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pandemi Covid-19 membuat reformasi struktural untuk sektor keuangan menjadi mendesak. Pemerintah Indonesia sendiri berkomitmen untuk memperkuat sektor keuangan mengingat peranannya yang penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Ini mengingat peran penting (sektor keuangan) dalam mengurangi kemiskinan, terutama selama fase pemulihan pandemi Covid-19,” imbuhnya.